Rights Issue (PMHMETD): Cara Kerja dan Dampaknya ke Pemegang Saham
Panduan mekanisme penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu, dari istilah jadwal sampai aritmetika dilusi. Disusun dari prospektus resmi dan dokumentasi KSEI.
Catatan data. Angka resmi dalam laporan ini bersumber dari lembaga publik (BPS, BI, OJK, BEI, asosiasi industri). Figur yang tidak tersedia di sumber resmi adalah estimasi Radar Pasar dengan asumsi terbuka · bukan hasil survei primer. Metodologi.
Angka kunci
Nama resmi aksi korporasi
PMHMETD
Penambahan Modal dengan Memberikan HMETD
Dilusi bila hak tidak dilaksanakan
33,3%
ILUSTRASI, rasio 2 banding 1
HMETD lewat jatuh tempo
Hangus
Didebet otomatis dari rekening efek
BI Rate acuan
5,75%
Ditahan pada RDG 21-22 Juli 2026
Apa itu HMETD dan kenapa disebut "hak"
Di pasar modal Indonesia, aksi ini muncul di sampul prospektus dengan nama Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu. Penomorannya berurut sesuai frekuensi: PMHMETD I, PMHMETD II, dan seterusnya. Istilah "rights issue" adalah padanan sehari-hari yang dipakai media dan pelaku pasar.
Prospektus mendefinisikan HMETD sebagai hak yang melekat pada saham, yang memberi kesempatan kepada pemegang saham bersangkutan untuk membeli saham perseroan atau efek bersifat ekuitas lainnya sebelum ditawarkan kepada pihak lain. Dua kata kuncinya: melekat dan sebelum. Hak itu bukan hadiah yang dibagikan sesuka emiten, melainkan konsekuensi dari status kepemilikan saham, dan urutannya mendahului pihak luar.
Radar Pasar Weekly
Data & laporan baru tiap Senin pagi
Satu email per minggu: rekap indikator makro terbaru + laporan yang baru terbit. Gratis. Berhenti kapan saja.
Rights issue adalah aksi korporasi ketika emiten menerbitkan saham baru dan menawarkannya lebih dulu kepada pemegang saham lama secara proporsional. Nama resminya di Indonesia adalah Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu, disingkat PMHMETD, dan sering muncul sebagai Penawaran Umum Terbatas (PUT I, PUT II, dan seterusnya). HMETD sendiri didefinisikan dalam prospektus resmi sebagai hak yang melekat pada saham, yang memberi kesempatan pemegangnya membeli saham atau efek bersifat ekuitas lain sebelum ditawarkan kepada pihak lain.
Apa yang terjadi jika saya tidak menebus rights issue?
Jika HMETD tidak dilaksanakan sampai tanggal jatuh tempo, hak tersebut dihapus atau didebet secara otomatis dari rekening efek tanpa kompensasi apa pun. Jumlah saham yang dimiliki tidak berubah, tetapi persentase kepemilikan terhadap total saham beredar menyusut karena ada saham baru yang terbit. Prospektus menyebut penyusutan persentase kepemilikan akibat tidak dilaksanakannya HMETD ini sebagai dilusi.
Apakah HMETD bisa dijual?
Bisa, selama periode perdagangan HMETD yang jadwalnya diumumkan emiten di prospektus. HMETD dialihkan lewat sistem pemindahbukuan antar pemegang rekening efek di KSEI, sehingga penjual maupun pembeli harus memiliki rekening di anggota bursa atau bank kustodian yang terdaftar sebagai pemegang rekening KSEI. Pihak yang membeli HMETD di pasar menjadi pemegang hak yang sah dan dapat menebusnya menjadi saham baru pada harga pelaksanaan.
Kenapa harga saham turun setelah rights issue?
Sebagian besar penurunan pada tanggal ex-HMETD adalah koreksi aritmetis, bukan penilaian ulang oleh pasar. Ketika hak terpisah dari saham, nilai hak itu berpindah keluar dari harga saham, sehingga muncul harga teoretis ex-rights yang merupakan rata-rata tertimbang antara harga sebelumnya dan harga pelaksanaan. Contoh ilustratif: saham Rp 1.000 dengan rasio 2 banding 1 pada harga pelaksanaan Rp 700 menghasilkan harga teoretis Rp 900, dan selisih Rp 100 itu setara nilai hak yang melekat pada tiap saham lama.
Apa beda rights issue dan private placement?
Rights issue menawarkan saham baru kepada seluruh pemegang saham secara proporsional lewat instrumen HMETD yang bisa ditebus atau dijual. Private placement, yang formalnya disebut penambahan modal tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu, menerbitkan saham baru langsung kepada pihak tertentu yang dipilih emiten. Pada rights issue pemegang saham lama punya kesempatan mempertahankan porsinya atau menerima kompensasi dari penjualan hak, sedangkan pada private placement kesempatan itu tidak ada.
Kapan batas akhir membeli saham agar dapat HMETD?
Batasnya adalah cum-date, yaitu hari bursa terakhir ketika pembelian saham masih membawa serta hak HMETD. Mulai ex-date, saham diperdagangkan tanpa hak, sehingga pembeli baru tidak menerima HMETD. Perlu diperhatikan bahwa jadwal cum-date dan ex-date di pasar reguler dan pasar negosiasi berbeda dari pasar tunai, dan yang menjadi acuan adalah tabel jadwal resmi di prospektus emiten.
Mekanismenya berjalan lewat infrastruktur pasar. Emiten menerbitkan saham baru dari portepel, lalu KSEI menghitung jumlah HMETD tiap pemegang rekening berdasarkan rasio yang diumumkan dan mendistribusikannya ke rekening efek melalui sistem C-BEST pada tanggal distribusi. Investor tidak perlu mendaftar untuk menerimanya.
Disebut "hak", bukan kewajiban, karena tidak ada paksaan melekat padanya. Pemegang HMETD boleh menebus, boleh menjual, boleh juga tidak melakukan apa-apa. Yang perlu dicatat, hak ini punya tanggal kedaluwarsa: setelah jatuh tempo, HMETD yang tidak dilaksanakan dihapus otomatis dari rekening efek tanpa kompensasi. Ini yang membedakannya dari dividen, yang masuk ke rekening tanpa investor perlu bertindak.
Istilah yang wajib dibaca sebelum memutuskan
Istilah
Artinya
Rasio
Perbandingan saham lama terhadap hak atas saham baru. Rasio 2 banding 1 berarti tiap 2 saham lama memberi hak memesan 1 saham baru. Prospektus kerap menuliskannya dalam angka besar, misalnya "setiap pemegang sekian juta saham lama berhak atas sekian juta HMETD".
Harga pelaksanaan
Harga yang harus dibayar untuk menebus satu HMETD menjadi satu saham baru. Umumnya ditetapkan di bawah harga pasar agar penawaran menarik.
Cum-date
Hari bursa terakhir saat pembelian saham masih membawa serta hak. Jadwalnya berbeda antara pasar reguler dan negosiasi dengan pasar tunai.
Ex-date
Hari pertama saham diperdagangkan tanpa hak. Pembeli pada tanggal ini dan sesudahnya tidak menerima HMETD.
Recording date
Tanggal penentuan Daftar Pemegang Saham yang berhak, dengan batas jam yang disebut eksplisit di prospektus.
Periode perdagangan HMETD
Rentang hari bursa saat HMETD bisa dijual atau dibeli sebagai instrumen tersendiri.
Periode pelaksanaan
Rentang waktu penebusan hak menjadi saham baru.
Pemesanan saham tambahan
Fasilitas bagi pemegang HMETD yang menebus penuh untuk memesan sisa saham. Bila permintaan melebihi sisa, penjatahan dilakukan secara proporsional.
Pembeli siaga
Pihak yang terikat perjanjian pembelian sisa saham, yaitu berkomitmen membeli sebagian atau seluruh saham baru yang tidak diambil pemegang HMETD.
Aritmetika dilusi, satu ilustrasi utuh
Andaikan sebuah emiten memiliki 1 miliar saham beredar dan harganya Rp 1.000 menjelang cum-date. Emiten menggelar rights issue rasio 2 banding 1 pada harga pelaksanaan Rp 700. Terbit 500 juta saham baru, dan bila seluruh hak ditebus emiten menghimpun Rp 350 miliar.
Harga teoretis setelah hak terpisah dari saham adalah rata-rata tertimbang harga lama dan harga pelaksanaan:
Nilai lama: 1.000.000.000 x Rp 1.000 = Rp 1,00 triliun
Nilai setoran baru: 500.000.000 x Rp 700 = Rp 0,35 triliun
Total Rp 1,35 triliun dibagi 1.500.000.000 saham = Rp 900 per saham
Selisih Rp 1.000 menjadi Rp 900, yaitu Rp 100 per saham lama, bukan kerugian yang muncul entah dari mana. Itu nilai yang berpindah ke HMETD. Karena satu saham lama membawa setengah hak, nilai teoretis satu HMETD adalah Rp 900 dikurangi Rp 700, yakni Rp 200. Dan 0,5 x Rp 200 = Rp 100, persis sama.
Interpretasi Radar Pasar: penurunan harga pada ex-date karena itu tidak otomatis berarti pasar menolak aksi tersebut. Sebagian besar penurunan bersifat aritmetis. Yang perlu dicermati justru pergerakan di luar besaran teoretis itu.
Tiga pilihan pemegang saham
Lanjutkan ilustrasi yang sama. Seorang investor memegang 10.000 saham senilai Rp 10 juta pada harga cum Rp 1.000, setara 0,001% kepemilikan.
Pilihan
Tindakan
Posisi teoretis sesudahnya
Kepemilikan
Tebus penuh
Terima 5.000 HMETD, setor 5.000 x Rp 700 = Rp 3,5 juta
15.000 saham x Rp 900 = Rp 13,5 juta, sama dengan Rp 10 juta ditambah Rp 3,5 juta
Tetap 0,001%
Jual HMETD
Jual 5.000 HMETD pada nilai teoretis Rp 200 = Rp 1 juta
10.000 saham x Rp 900 = Rp 9 juta, ditambah Rp 1 juta tunai = Rp 10 juta
Turun ke 0,00067%
Diam
Tidak menebus, tidak menjual
10.000 saham x Rp 900 = Rp 9 juta
Turun ke 0,00067%
Dua hal terbaca dari tabel itu. Pertama, dilusi kepemilikan sebesar 33,3% dialami baik oleh yang menjual haknya maupun yang diam, karena saham beredar naik 50% sehingga porsi lama menjadi 1 dibagi 1,5. Kedua, yang membedakan keduanya adalah kompensasi: penjual menerima Rp 1 juta, sedangkan yang diam kehilangan nilai itu tanpa penggantian.
Hitungan di atas adalah kerangka teoretis. Harga HMETD di pasar ditentukan penawaran dan permintaan, bisa menyimpang dari nilai teoretisnya, bahkan bisa tidak likuid. Radar Pasar tidak menyatakan pilihan mana yang lebih baik. Keputusan itu bergantung pada tujuan, horizon, dan kemampuan setor masing-masing pemegang saham.
Kenapa emiten menempuh jalur ini
Tiga motif paling sering muncul di bagian rencana penggunaan dana:
Memperkuat permodalan. Terutama pada sektor yang tunduk pada ketentuan kecukupan modal seperti perbankan dan asuransi. Modal disetor bertambah tanpa menambah beban bunga.
Membiayai ekspansi atau akuisisi. Belanja modal, penambahan kapasitas, atau pembelian aset dan entitas baru.
Melunasi utang. Menukar kewajiban berbunga dengan ekuitas. Interpretasi Radar Pasar: motif ini paling sensitif terhadap biaya dana. Ketika bunga tinggi, beban bunga menekan laba sehingga konversi utang ke ekuitas lebih sering dipertimbangkan. BI Rate berada di 5,75% sejak Rapat Dewan Gubernur Juni 2026 dan ditahan pada RDG 21-22 Juli 2026.
Prospektus juga wajib memuat proforma struktur permodalan sebelum dan sesudah aksi, lengkap dengan angka dilusi maksimum bagi pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya. Bagian ini, bersama rencana penggunaan dana, umumnya lebih informatif daripada siaran pers. Jadwal aksi korporasi berjalan dapat ditelusuri lewat halaman emiten dan kalender kami.
POJK tentang penambahan modal perusahaan terbuka dengan memberikan HMETD
POJK tentang penambahan modal perusahaan terbuka tanpa memberikan HMETD
Keduanya memerlukan persetujuan RUPS dan proses pernyataan pendaftaran di OJK. Perbedaan mendasarnya terletak pada distribusi kesempatan. Rights issue menyebarkan kesempatan ke seluruh pemegang saham dan memberi jalan keluar berupa penjualan hak, sedangkan private placement mengarahkan saham baru langsung ke pihak terpilih. Istilah lain di glosarium kami.
Metodologi
Artikel ini disusun Tim Riset Radar Pasar sebagai materi edukasi dan informasi, bukan saran investasi. Kami tidak memberikan rekomendasi menebus atau tidak menebus HMETD, tidak menetapkan target harga, dan tidak memprediksi arah harga. Lihat disclaimer dan metodologi.
Sumber yang benar-benar kami buka dan verifikasi:
Prospektus resmi PMHMETD sebuah bank BUMN yang dipublikasikan di situs emiten. Dokumen ini menjadi rujukan untuk definisi HMETD, harga pelaksanaan, dilusi, pembeli siaga, daftar pemegang saham, formulir pemesanan saham tambahan, mekanisme penjatahan sisa saham, serta struktur baku jadwal aksi korporasi (cum-right dan ex-right terpisah untuk pasar reguler dan negosiasi versus pasar tunai, recording date, tanggal distribusi HMETD, periode perdagangan, periode pelaksanaan, penjatahan, dan pembayaran pembeli siaga).
PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (ksei.co.id), halaman jasa aksi korporasi, FAQ, dan pengumuman aksi korporasi, untuk mekanisme distribusi HMETD, pelaksanaan lewat C-BEST, dan penghapusan otomatis HMETD yang tidak dilaksanakan setelah jatuh tempo.
Keterbatasan yang perlu dinyatakan terbuka:
Situs ojk.go.id dan peraturan.go.id menolak akses otomatis (koneksi ditolak), dan idx.co.id mengembalikan HTTP 403 selama penyusunan. Karena kami tidak berhasil membuka teks peraturan di sumber primer regulator, artikel ini sengaja tidak mencantumkan nomor POJK, ambang persentase, kuorum RUPS, tenggat hari proses pernyataan efektif, maupun jumlah minimum hari periode perdagangan HMETD, meskipun angka-angka itu beredar luas di sumber sekunder. Peraturan hanya disebut lewat judulnya.
Seluruh angka pada bagian ilustrasi dihitung sendiri oleh Tim Riset Radar Pasar dan ditandai sebagai ilustrasi. Tidak ada angka emiten nyata yang dipakai sebagai contoh dilusi.
Angka BI Rate berasal dari hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia dan dipakai sebagai konteks biaya dana, bukan sebagai bagian dari mekanisme rights issue.