Rumusnya cuma ekspor dikurangi impor, tetapi angka headline bisa defisit justru ketika perdagangan nonmigas surplus. Panduan membaca rilis ekspor impor BPS dengan contoh data Juni 2026.
Penulis
Tim Riset Radar PasarDiterbitkan
Neraca dagang Juni 2026
Defisit USD 0,45 miliar
Ekspor 25,46 miliar, impor 25,91 miliar
Nonmigas vs migas Juni 2026
Surplus 3,04 vs defisit 3,49
Dalam miliar dolar AS
Kumulatif Januari-Juni 2026
Surplus USD 3,58 miliar
Ekspor 140,81 miliar, impor 137,24 miliar
Jadwal rilis ekspor impor
Awal bulan, bersama inflasi
Data Juni 2026 dirilis 3 Agustus 2026
Neraca perdagangan barang adalah selisih nilai ekspor dikurangi nilai impor pada periode yang sama. Positif berarti surplus, negatif berarti defisit. Tidak ada rumus tersembunyi di sini. Yang membuat pembacaan sering meleset bukan aritmetikanya, melainkan asumsi tentang angka mana yang sedang dibandingkan.
Sejak 2025 BPS memindahkan rilis perkembangan ekspor impor dari pertengahan bulan, yang selama ini berisi angka sementara, ke awal bulan bersamaan dengan rilis inflasi. Alasan resmi yang disampaikan BPS adalah peningkatan kualitas data, sehingga pengguna langsung menerima angka tetap. Konsekuensi praktisnya, jeda waktu bertambah sekitar satu bulan. Data April 2026 keluar pada 2 Juni 2026, data Mei 2026 pada 1 Juli 2026, dan data Juni 2026 pada 3 Agustus 2026. Polanya konsisten, tetapi tanggal persisnya bisa bergeser mengikuti akhir pekan dan hari libur, jadi tetap periksa sebelum menyusun jadwal analisis.
Radar Pasar Weekly
Satu email per minggu: rekap indikator makro terbaru + laporan yang baru terbit. Gratis. Berhenti kapan saja.
FAQ
Selanjutnya
BPS merilis Produk Domestik Bruto empat kali setahun, umumnya tanggal 5 Februari, Mei, Agustus, dan November. Setiap rilis memuat tiga ukuran pertumbuhan (y-on-y, q-to-q, c-to-c) serta dua versi nilai PDB (atas dasar harga berlaku dan harga konstan seri 2010). Panduan ini menjelaskan kapan masing-masing dipakai, kenapa media mengutip angka ADHK, dan kenapa "andil" lebih informatif daripada persentase pertumbuhan komponen.
Rights issue, resminya Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD), menawarkan saham baru lebih dulu kepada pemegang saham lama secara proporsional lewat instrumen bernama HMETD. Hak itu punya nilai ekonomi, bisa diperdagangkan di bursa, dan hangus otomatis dari rekening efek bila tidak dilaksanakan sampai jatuh tempo. Artikel ini membedah istilah jadwal, tiga pilihan pemegang saham, dan aritmetika dilusi lewat contoh ilustratif yang dihitung sendiri oleh Tim Riset Radar Pasar.
Rights issue dan private placement sama-sama menerbitkan saham baru, tetapi hanya rights issue yang memberi pemegang saham lama Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Private placement menawarkan saham baru langsung ke pihak tertentu, sehingga dilusi terjadi tanpa pemegang saham publik bisa ikut menyetor. Keduanya wajib lewat persetujuan RUPS, tetapi jalur, batas ukuran, dan kecepatannya berbeda.
Istilah dalam laporan ini
Klik untuk definisi singkat di glosarium.
Ini pemisahan yang paling menjelaskan isi rilis, dan sering hilang di berita ringkas. Angka headline adalah penjumlahan dua neraca yang perilakunya berbeda.
Pada Juni 2026, ekspor tercatat USD 25,46 miliar, terdiri atas nonmigas USD 24,39 miliar dan migas USD 1,07 miliar. Di sisi lain, impor mencapai USD 25,91 miliar, terdiri atas nonmigas USD 21,35 miliar dan migas USD 4,56 miliar. Impor migas melonjak 105,15 persen dibanding Juni 2025, dengan penyumbang utama hasil minyak dan minyak mentah. Hasilnya, perdagangan nonmigas surplus USD 3,04 miliar sementara perdagangan migas defisit USD 3,49 miliar, dan total keduanya menjadi defisit USD 0,45 miliar.
Pola yang sama terlihat di bulan sebelumnya. Mei 2026 mencatat defisit USD 1,61 miliar, yang memutus rangkaian surplus 72 bulan beruntun, dengan surplus nonmigas USD 2,15 miliar berhadapan dengan defisit migas USD 3,76 miliar. April 2026 pun sudah menunjukkan tekanan yang sama: surplus nonmigas USD 3,53 miliar hanya menyisakan surplus total tipis karena defisit migas USD 3,44 miliar.
Interpretasi Radar Pasar: karena Indonesia berposisi net importir minyak dan hasil minyak, blok migas berfungsi sebagai pengurang yang cukup stabil kehadirannya terhadap surplus nonmigas. Membaca headline tanpa memisahkan dua blok ini membuat kesimpulan tentang daya saing ekspor manufaktur dan komoditas menjadi kabur.
Rilis BPS menyajikan angka bulanan sekaligus angka kumulatif sejak Januari. Keduanya bisa berlawanan arah pada saat yang sama, dan itu bukan kontradiksi.
Juni 2026 tercatat defisit USD 0,45 miliar. Namun secara kumulatif Januari sampai Juni 2026, neraca perdagangan barang masih surplus USD 3,58 miliar, dari ekspor USD 140,81 miliar yang naik 4,13 persen dan impor USD 137,24 miliar yang naik 18,69 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Mengurangkan dua angka yang sudah dibulatkan itu menghasilkan 3,57; selisih 0,01 berasal dari pembulatan komponen, karena BPS menghitungnya dari surplus nonmigas USD 19,35 miliar dikurangi defisit migas USD 15,77 miliar. Judul "Indonesia defisit" dan "Indonesia masih surplus" sama-sama benar, hanya beda periode acuan.
Dalam statistik perdagangan BPS, nilai ekspor dicatat atas dasar FOB atau free on board, sedangkan nilai impor dicatat atas dasar CIF atau cost, insurance, and freight. Konvensi ini terbaca langsung pada judul tabel resmi BPS, misalnya tabel nilai ekspor menurut negara tujuan utama yang diberi keterangan nilai FOB dan tabel nilai impor menurut negara asal utama yang diberi keterangan nilai CIF.
Bedanya bukan sekadar istilah. FOB mencerminkan nilai barang sampai berada di atas kapal di pelabuhan muat, sementara CIF sudah memasukkan ongkos angkut dan premi asuransi sampai pelabuhan tujuan. Artinya sisi impor mengandung komponen jasa yang tidak ada di sisi ekspor.
Yang perlu dicermati, ini membuat perbandingan langsung antara kedua sisi tidak sepenuhnya apel dengan apel. Radar Pasar tidak menyajikan angka koreksi apa pun untuk selisih tersebut, karena besaran penyesuaiannya tidak kami verifikasi ke sumber primer. Cukup catat bahwa dasar penilaiannya berbeda, dan hindari menyimpulkan bahwa selisih kecil antara ekspor dan impor mencerminkan ketimpangan volume yang persis sama.
BPS juga memecah impor menurut golongan penggunaan barang, yaitu barang konsumsi, bahan baku dan barang penolong, serta barang modal. Pemecahan ini penting karena kenaikan impor tidak selalu berarti hal yang sama.
Pada Juni 2026, seluruh golongan naik dibanding Juni 2025: barang konsumsi naik 17,46 persen, bahan baku dan barang penolong naik 38,94 persen, dan barang modal naik 26,53 persen.
Interpretasi Radar Pasar: impor bahan baku dan barang modal umumnya merupakan input bagi produksi dan investasi di dalam negeri, sehingga kenaikannya sering dibaca sebagai indikasi aktivitas industri yang berjalan, meski dampaknya terhadap neraca dagang tetap negatif pada bulan berjalan. Impor barang konsumsi lebih langsung menggambarkan permintaan akhir rumah tangga. Karena itu, defisit yang bersumber dari lonjakan bahan baku dan barang modal punya implikasi berbeda dari defisit yang bersumber dari barang konsumsi. Struktur pengeluaran ini bisa disandingkan dengan komposisi pertumbuhan ekonomi untuk melihat konsistensinya.
Ekspor menghasilkan penerimaan valuta asing, impor membutuhkannya. Karena itu neraca perdagangan barang menjadi salah satu sumber pasokan devisa bagi perekonomian, dan komentar resmi biasanya mengaitkannya dengan ketahanan eksternal. Menanggapi rilis Juni 2026, Bank Indonesia menyebut penyempitan defisit itu positif bagi ketahanan eksternal, dengan merujuk surplus nonmigas yang meningkat dan defisit migas yang menurun. Penilaian tersebut milik Bank Indonesia, bukan Radar Pasar.
Batasnya perlu ditegaskan. Neraca perdagangan barang bukan satu-satunya penentu posisi eksternal. Ada neraca jasa, pendapatan primer dan sekunder, arus investasi langsung, serta arus portofolio yang bergerak jauh lebih cepat daripada arus barang. Posisi cadangan devisa pada Juli 2026 tercatat USD 145,3 miliar menurut siaran pers Bank Indonesia 7 Agustus 2026, setara pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah, di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan, dan angka itu sudah mencakup pengaruh seluruh komponen di atas, bukan hanya perdagangan barang.
Radar Pasar tidak memprediksi arah nilai tukar rupiah dan tidak memberikan saran investasi. Yang bisa dikatakan secara jujur hanyalah mekanismenya: surplus dagang menambah potensi pasokan devisa, defisit menguranginya, sementara realisasi pergerakan kurs ditentukan banyak faktor lain sekaligus. Lihat disclaimer kami untuk posisi editorial ini.
Angka neraca perdagangan pada laporan ini berasal dari rilis Badan Pusat Statistik untuk periode April, Mei, dan Juni 2026, sedangkan posisi cadangan devisa Juli 2026 berasal dari siaran pers Bank Indonesia 7 Agustus 2026, sebagaimana dipaparkan pejabat BPS dan dikutip media ekonomi nasional. Situs bps.go.id memblokir akses otomatis kami dengan HTTP 403, sehingga isi rilis resmi dikonfirmasi lewat kutipan media atas paparan BPS, bukan lewat pengunduhan dokumen Berita Resmi Statistik secara langsung. Konsistensi angka kami uji ulang secara aritmetik. Ekspor USD 140,81 miliar dikurangi impor USD 137,24 miliar menghasilkan USD 3,57 miliar, berbeda 0,01 dari angka resmi USD 3,58 miliar karena BPS menghitung dari komponen yang belum dibulatkan, yaitu surplus nonmigas USD 19,35 miliar dikurangi defisit migas USD 15,77 miliar. Kami juga menguji selisih ekspor dan impor April 2026 yang menghasilkan sekitar USD 89 juta.
Konvensi penilaian FOB untuk ekspor dan CIF untuk impor dikonfirmasi lewat penamaan tabel statistik resmi di domain bps.go.id, ditambah penjelasan konseptual dari sumber akademik. Halaman rujukan statistik BPS yang berhasil kami akses hanya memuat definisi umum neraca perdagangan sebagai selisih nilai ekspor dan impor, tanpa rincian dasar penilaian. Karena itu kami tidak mencantumkan angka penyesuaian FOB terhadap CIF dalam bentuk apa pun.
Perubahan jadwal rilis dikonfirmasi lewat pemberitaan atas keterangan resmi BPS pada Mei 2025 dan diperiksa silang dengan tanggal terbit rilis April, Mei, dan Juni 2026. Kami tidak mengutip nomor peraturan atau ambang batas regulasi apa pun karena tidak diverifikasi ke sumber primer. Laporan ini bersifat informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Rincian pendekatan redaksi tersedia di halaman metodologi, definisi istilah di glosarium, dan pemantauan berkala di indikator neraca dagang serta dashboard.