Alat
Bunga majemuk adalah bunga yang dihitung dari pokok ditambah bunga yang sudah terkumpul sebelumnya (bunga-berbunga), sehingga uang bertumbuh secara eksponensial. Rumusnya: M = P x (1 + r/n)^(n x t).
Simulasikan pertumbuhan uangmu dari pokok awal, setoran rutin bulanan, imbal hasil tahunan, dan jangka waktu - lengkap dengan pembanding bunga tunggal untuk melihat efek pemajemukannya.
Detail simulasi
Rp 10.000.000
Rp 500.000
Asumsi imbal hasil tahunan, dimajemukkan bulanan. Hasil investasi nyata berfluktuasi.
Nilai akhir (bunga majemuk)
Rp 100.133.641
setelah 10 tahun · 1,43x dari total setoran
Pembanding: bunga tunggal (tanpa reinvestasi)
Rp 93.850.000
Selisihnya Rp 6.283.641 - itulah efek bunga-berbunga yang menguat seiring waktu.
Simulasi matematis dengan asumsi imbal hasil konstan dan pemajemukan bulanan, belum termasuk pajak, biaya, dan fluktuasi pasar. Untuk edukasi, bukan saran investasi.
M = P × (1 + r ÷ n)n × t
Contoh: pokok Rp 10.000.000, bunga 6% per tahun, dimajemukkan bulanan (n = 12) selama 10 tahun. Maka M = Rp 10.000.000 × (1 + 0,06 ÷ 12)120 = Rp 18.193.967.
Selisihnya kecil di tahun-tahun awal lalu melebar tajam. Tabel berikut memakai pokok Rp 10.000.000 dengan bunga 6% per tahun (majemuk bulanan). Angka ilustrasi, bukan proyeksi imbal hasil produk tertentu.
| Jangka waktu | Bunga tunggal | Bunga majemuk | Selisih |
|---|---|---|---|
| 5 tahun | Rp 13.000.000 | Rp 13.488.502 | +Rp 488.502 |
| 10 tahun | Rp 16.000.000 | Rp 18.193.967 | +Rp 2.193.967 |
| 20 tahun | Rp 22.000.000 | Rp 33.102.045 | +Rp 11.102.045 |
| 30 tahun | Rp 28.000.000 | Rp 60.225.752 | +Rp 32.225.752 |
Perhatikan bahwa selisihnya tidak tumbuh lurus. Itulah alasan jangka waktu sering lebih menentukan daripada besar setoran, dan alasan yang sama membuat bunga utang berbunga terasa berat bila dibiarkan lama. Efek ini bekerja dua arah.