Satu rilis PDB memuat tiga angka pertumbuhan yang berbeda dan dua versi nilai rupiah. Panduan ini memakai rilis Triwulan II 2026 sebagai contoh nyata.
Penulis
Tim Riset Radar PasarDiterbitkan
PDB Triwulan II 2026 (y-on-y)
5,29%
Triwulan I 2026: 5,61%
PDB ADHK harga konstan 2010
Rp 3.576,2 triliun
ADHB Rp 6.552,1 triliun
Jadwal rilis PDB
Feb, Mei, Agu, Nov
umumnya tanggal 5
Andil konsumsi rumah tangga
2,67 poin
dari total 5,29 poin
Kesalahan paling umum saat membaca rilis PDB adalah mencampur ketiga ukuran ini. Berikut pembedanya.
| Ukuran | Pembanding | Cocok untuk |
|---|---|---|
| y-on-y | Triwulan yang sama tahun sebelumnya |
Radar Pasar Weekly
Satu email per minggu: rekap indikator makro terbaru + laporan yang baru terbit. Gratis. Berhenti kapan saja.
FAQ
Selanjutnya
Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa akhir Juli 2026 sebesar USD 145,3 miliar, turun tipis USD 0,3 miliar dari Juni. Posisi ini setara pembiayaan 5,5 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan. Setelah turun lima bulan beruntun dari puncak Desember 2025, posisinya kini mendatar.
Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% year-on-year pada Triwulan II 2026, melambat dari 5,61% pada Triwulan I namun tetap di atas 5% untuk lima triwulan beruntun. Secara kuartalan tumbuh 3,73% dan kumulatif Semester I 5,45%. PDB harga berlaku mencapai Rp 6.552,1 triliun.
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indonesia Juli 2026 sebesar 2,88% secara tahunan (YoY), turun dari 3,34% pada Juni. Secara bulanan terjadi deflasi 0,14% dengan Indeks Harga Konsumen turun dari 111,89 ke 111,73, dipicu koreksi harga bawang merah, cabai merah, telur, serta perhiasan emas. Year-to-date 1,65%.
Istilah dalam laporan ini
Klik untuk definisi singkat di glosarium.
| Menilai tren tahunan tanpa gangguan musiman |
| q-to-q | Triwulan sebelumnya | Melihat momentum jangka pendek, tetapi sarat pola musiman |
| c-to-c | Akumulasi sejak awal tahun terhadap periode sama tahun lalu | Menakar capaian terhadap target tahunan |
Pada rilis Triwulan II 2026, ekonomi tumbuh 5,29 persen y-on-y, melambat dari 5,61 persen pada Triwulan I 2026. Secara q-to-q ekonomi tumbuh 3,73 persen, dan secara kumulatif Semester I 2026 tumbuh 5,45 persen dibanding Semester I 2025.
Angka yang biasanya dijadikan judul berita adalah y-on-y. Angka c-to-c dipakai ketika membandingkan realisasi dengan asumsi pertumbuhan dalam dokumen anggaran. Angka q-to-q paling jarang dikutip justru karena paling mudah disalahpahami. Penjelasannya ada di bagian berikutnya.
BPS menyajikan nilai PDB dalam dua versi. Atas dasar harga berlaku (ADHB) menilai seluruh barang dan jasa dengan harga yang berlaku pada periode tersebut, sehingga masih mengandung pengaruh perubahan harga. Atas dasar harga konstan (ADHK) menilai barang dan jasa yang sama dengan harga tahun dasar, sehingga perubahannya murni mencerminkan perubahan volume.
Pada Triwulan II 2026, PDB ADHB tercatat Rp 6.552,1 triliun sementara ADHK Rp 3.576,2 triliun. Selisih yang lebar itu bukan tanda ada yang salah, melainkan akumulasi kenaikan harga sejak tahun dasar.
Karena angka pertumbuhan yang ingin diukur adalah pertumbuhan riil, semua persentase pertumbuhan yang dikutip media dihitung dari ADHK. ADHB tetap dipakai untuk hal lain, misalnya menghitung porsi tiap komponen terhadap total PDB dan PDB per kapita.
Seri PDB harga konstan yang berlaku saat ini masih memakai tahun dasar 2010. Artinya struktur harga relatif yang dipakai untuk menimbang volume produksi berasal dari lebih dari satu dekade lalu.
BPS menyatakan Sensus Ekonomi 2026, yang pendataan lapangannya berlangsung 15 Juni sampai 31 Agustus 2026, akan mendukung rebasing penghitungan PDB. Namun sampai rilis Triwulan II 2026 terbit, tahun dasar baru belum diumumkan, begitu pula tanggal penerapannya.
Interpretasi Radar Pasar: selama pengumuman resmi belum keluar, semua angka ADHK yang beredar tetap seri 2010 dan dapat dibandingkan antarperiode. Ketika rebasing benar-benar diterapkan nanti, level PDB dan sebagian angka pertumbuhan historis lazimnya ikut direvisi, sehingga perbandingan lintas seri perlu dilakukan hati-hati.
Rilis PDB selalu menyajikan dua sisi yang secara konsep menghasilkan total yang sama.
Sisi lapangan usaha (produksi) disajikan dalam 17 kategori. Jumlah ini tidak sama dengan KBLI. Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2020 membagi kegiatan ekonomi ke dalam 21 kategori dari A sampai U, sedangkan penyajian PDB menggabungkan sebagian di antaranya, misalnya kategori M dan N menjadi Jasa Perusahaan serta R, S, T, dan U menjadi Jasa Lainnya. Menyamakan keduanya adalah kesalahan yang sering muncul dalam tulisan populer.
Contoh dari Triwulan II 2026: Pengadaan Listrik dan Gas mencatat pertumbuhan y-on-y tertinggi sebesar 10,81 persen, sementara secara q-to-q pertumbuhan tertinggi datang dari Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 12,26 persen.
Sisi pengeluaran terdiri atas enam komponen: pengeluaran konsumsi rumah tangga, pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (PKLNPRT), pengeluaran konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto (PMTB), perubahan inventori, serta ekspor dikurangi impor.
Pada Triwulan II 2026, konsumsi pemerintah tumbuh 15,97 persen, PKLNPRT 6,93 persen, PMTB 6,87 persen, konsumsi rumah tangga 5,06 persen, dan ekspor barang dan jasa 4,13 persen.
Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan q-to-q pada Triwulan I konsisten negatif.
| Periode | Pertumbuhan q-to-q |
|---|---|
| Triwulan I 2024 | -0,83 persen |
| Triwulan I 2025 | -0,98 persen |
| Triwulan I 2026 | -0,77 persen |
BPS menjelaskan kontraksi Triwulan I 2026 dipicu dua hal: konsumsi pemerintah yang turun karena Triwulan IV adalah puncak realisasi belanja di akhir tahun anggaran, serta sektor konstruksi yang aktivitas proyek fisiknya juga memuncak di akhir tahun.
Interpretasi Radar Pasar: lapangan usaha pertanian menambah amplitudo pola ini karena jadwal panen menggeser produksi antartriwulan. Buktinya terlihat pada Triwulan II 2026, ketika pertanian mencatat pertumbuhan q-to-q tertinggi 12,26 persen.
Bagian yang paling sering salah dibaca adalah daftar pertumbuhan komponen. Komponen yang tumbuh paling cepat belum tentu penggerak utama, karena yang menentukan adalah kombinasi laju pertumbuhan dan besar porsinya terhadap PDB. Ukuran gabungan itu disebut andil atau sumber pertumbuhan, dinyatakan dalam poin persentase.
Triwulan II 2026 memberi contoh yang jelas. Konsumsi pemerintah tumbuh 15,97 persen, tertinggi di antara komponen pengeluaran, tetapi andilnya hanya 1,07 poin. Sebaliknya konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 5,06 persen, namun karena porsinya 53,32 persen dari PDB, andilnya mencapai 2,67 poin. PMTB dengan porsi 29,36 persen dan pertumbuhan 6,87 persen menyumbang 2,06 poin, sementara PKLNPRT menyumbang 0,09 poin. Ekspor neto memberi andil negatif 0,78 poin. Kelima angka itu berjumlah 5,11 poin, sedikit di bawah total 5,29 poin; sisanya berasal dari perubahan inventori dan diskrepansi statistik yang tidak kami cantumkan karena tidak berhasil kami verifikasi.
Pola serupa berlaku di sisi lapangan usaha: industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan andil 0,90 poin, diikuti perdagangan 0,83 poin, konstruksi 0,62 poin, dan informasi dan komunikasi 0,48 poin.
Interpretasi Radar Pasar: ketika membaca rilis, urutkan komponen berdasarkan andil, bukan berdasarkan persentase pertumbuhan. Angka andil juga membantu memahami arah permintaan domestik ketika dibaca bersama indeks keyakinan konsumen dan data neraca perdagangan. Rangkuman seri PDB tersedia di halaman indikator PDB, dan istilah teknis dijelaskan di glosarium.
Artikel ini disusun Tim Riset Radar Pasar dari rilis resmi Badan Pusat Statistik untuk PDB Triwulan II 2026 (terbit 5 Agustus 2026) dan Triwulan I 2026 (terbit 5 Mei 2026), serta rilis PDB Triwulan I 2024 dan Triwulan I 2025 untuk data historis q-to-q.
Keterbatasan yang perlu diketahui pembaca: laman bps.go.id memblokir pengambilan konten otomatis dan mengembalikan HTTP 403, sehingga isi rilis tidak dapat dibaca langsung. Judul rilis resmi terkonfirmasi melalui indeks mesin pencari, sedangkan rincian angka dikonfirmasi melalui pemberitaan atas paparan resmi BPS, antara lain ANTARA News, The Iconomics, dan GoodStats Data. Beberapa media lain yang muncul di hasil pencarian juga memblokir pengambilan otomatis dan karena itu tidak dijadikan rujukan.
Rincian yang tidak dapat diverifikasi sengaja tidak dicantumkan, termasuk jam pasti publikasi Berita Resmi Statistik, angka pertumbuhan impor dan perubahan inventori Triwulan II 2026, serta rencana tahun dasar baru hasil rebasing. Penjelasan lengkap tentang cara Radar Pasar menyusun data ada di halaman metodologi.
Artikel ini bersifat informasi dan edukasi, bukan saran investasi. Lihat disclaimer.