Pertumbuhan y-on-y melambat dari 5,61% ke 5,29%, tetapi kumulatif Semester I mencapai 5,45% - tertinggi dalam lima tahun. Pendorong terbesar kali ini konsumsi pemerintah yang melonjak 15,97%, sementara net ekspor menyumbang minus 0,78 poin.
Penulis
Tim Riset Radar PasarDiterbitkan
Pertumbuhan (Y-on-Y)
5,29%
melambat dari 5,61%
Kuartalan (Q-to-Q)
+3,73%
pola musiman
Semester I (C-to-C)
5,45%
tertinggi 5 tahun
PDB harga berlaku
Rp 6.552,1 T
ADHK Rp 3.576,2 T
Lihat nilai dan riwayat terkini di halaman indikator Pertumbuhan PDB.
Rilis ini memuat tiga angka pertumbuhan yang arahnya terasa berbeda:
Radar Pasar Weekly
Satu email per minggu: rekap indikator makro terbaru + laporan yang baru terbit. Gratis. Berhenti kapan saja.
FAQ
Selanjutnya
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indonesia Juli 2026 sebesar 2,88% secara tahunan (YoY), turun dari 3,34% pada Juni. Secara bulanan terjadi deflasi 0,14% dengan Indeks Harga Konsumen turun dari 111,89 ke 111,73, dipicu koreksi harga bawang merah, cabai merah, telur, serta perhiasan emas. Year-to-date 1,65%.
Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia Juni 2026 defisit USD 0,45 miliar, defisit kedua beruntun setelah Mei memutus rangkaian 72 bulan surplus. Ekspor USD 25,46 miliar naik 8,84% YoY, impor USD 25,91 miliar melonjak 34,27% YoY. Kumulatif Januari-Juni masih surplus USD 3,58 miliar.
Inflasi year-on-year membandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu, month-to-month dengan bulan sebelumnya, dan year-to-date dengan Desember tahun lalu. Sasaran Bank Indonesia diukur dari angka year-on-year. Panduan ini juga menjelaskan komponen inti, harga diatur pemerintah, dan bergejolak, serta cara membaca andil.
Istilah dalam laporan ini
Klik untuk definisi singkat di glosarium.
Satu konteks penting untuk perlambatan y-on-y: Triwulan I 2026 memiliki basis pembanding yang tinggi karena Ramadan dan Idulfitri jatuh di periode tersebut, sehingga angka 5,61% itu sendiri terdongkrak momen musiman.
Berbeda dari pola biasanya, penopang terbesar pertumbuhan kali ini datang dari sisi pemerintah:
| Komponen pengeluaran | Pertumbuhan Y-on-Y | Andil |
|---|---|---|
| Konsumsi pemerintah | 15,97% | 1,07 poin |
| PMTB (investasi) | 6,87% | 2,06 poin |
| Konsumsi rumah tangga | 5,06% | 2,67 poin |
| Ekspor | 4,13% | - |
| Impor | 8,82% | - |
Lonjakan konsumsi pemerintah didorong belanja pegawai termasuk gaji ke-13, serta program Makan Bergizi Gratis. Perlu dicatat bahwa angka ini berdiri di atas basis yang rendah: pada Triwulan II 2025, konsumsi pemerintah justru terkontraksi 0,33%.
Impor tumbuh 8,82% sementara ekspor hanya 4,13%. Karena impor masuk sebagai pengurang dalam perhitungan PDB, selisih ini membuat net ekspor menyumbang minus 0,78 poin terhadap pertumbuhan.
Pola yang sama terlihat di data bulanan: neraca perdagangan Juni 2026 mencatat defisit USD 0,45 miliar, defisit kedua beruntun, dengan impor yang melonjak jauh lebih cepat daripada ekspor. Dua rilis berbeda, sinyal yang sejalan.
Meski pendorong pertumbuhannya bergeser, komposisi PDB tetap bertumpu pada dua komponen:
Keduanya bersama menyumbang 82,68% dari PDB. Ini contoh mengapa andil lebih penting daripada persentase pertumbuhan: konsumsi pemerintah tumbuh tiga kali lebih cepat daripada konsumsi rumah tangga, tetapi andilnya kurang dari separuh, karena porsinya jauh lebih kecil.
Rangkaian pertumbuhan y-on-y sejak awal 2025:
Artinya lima triwulan berturut-turut berada di atas 5%, terhitung sejak Triwulan II 2025.
Interpretasi Radar Pasar: kualitas pendorong pertumbuhan kali ini layak diperhatikan. Belanja pemerintah bersifat lebih diskresioner dan tergantung siklus anggaran, sedangkan basis pembanding yang rendah pada Triwulan II 2025 ikut memperbesar angkanya. Di sisi lain, sumbangan negatif dari net ekspor sejalan dengan defisit dagang dua bulan beruntun, sehingga sisi eksternal menjadi titik yang perlu dipantau. Ini pembacaan kami atas data yang tersedia, bukan proyeksi pertumbuhan triwulan berikutnya.
Konteks makro lain yang berjalan bersamaan: inflasi melandai ke 2,88% pada Juli, dan BI Rate ditahan di 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur 21-22 Juli 2026.
Laporan ini merangkum Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan II 2026, dipublikasikan 5 Agustus 2026. Angka pertumbuhan dihitung atas dasar harga konstan seri 2010. Seluruh angka telah dikonfirmasi silang ke siaran pers Bank Indonesia dan publikasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, serta diuji konsistensinya secara aritmetika dari level PDB harga konstan. Angka pertumbuhan per lapangan usaha tidak dicantumkan di sini karena kutipan antarsumber sekunder belum sepenuhnya konsisten dan kami belum memverifikasinya ke dokumen BRS asli. Tidak ada estimasi internal dalam laporan ini.
Lihat metodologi lengkap dan disclaimer.