Inflasi tahunan melandai dari 3,34% (Juni) ke 2,88% (Juli), kembali nyaman di dalam sasaran Bank Indonesia. Secara bulanan justru deflasi 0,14% karena koreksi harga pangan dan perhiasan emas.
Penulis
Tim Riset Radar PasarDiterbitkan
Inflasi tahunan (YoY)
2,88%
turun dari 3,34% (Juni)
Bulanan (MtM)
-0,14%
deflasi
Indeks Harga Konsumen
111,73
dari 111,89 (Juni)
Year-to-date (YtD)
1,65%
Jan-Jul 2026
Lihat nilai dan riwayat terkini di halaman indikator Inflasi YoY.
Rilis Juli memuat dua angka yang mudah tertukar, dan artinya berbeda:
Deflasi bulanan Juli terutama datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang turun 0,89% dengan andil minus 0,26% terhadap deflasi. Komoditas yang harganya terkoreksi antara lain bawang merah, cabai merah, telur ayam ras, tomat, dan jeruk. Di luar pangan, perhiasan emas turun 3,58% secara bulanan.
Ini kebalikan dari bulan-bulan sebelumnya, ketika pangan justru menjadi pendorong utama kenaikan. Lihat Inflasi Juni 2026 (3,34%) untuk pembandingnya.
Meski bulanan deflasi, secara tahunan harga masih naik 2,88%. Penyumbangnya:
Berdasarkan komponen, andil inflasi inti mencapai 1,76%, harga yang diatur pemerintah 0,70%, dan komponen bergejolak 0,42%.
Bank Indonesia menahan BI Rate di 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur 21-22 Juli 2026, setelah menaikkannya total 100 bps sepanjang 2026 - lihat BI Rate Naik ke 5,75%.
Interpretasi Radar Pasar: melandainya inflasi mengurangi satu sumber tekanan pada kebijakan moneter. Namun inflasi bukan satu-satunya pertimbangan. Nilai tukar dan posisi eksternal juga masuk hitungan, dan di sisi itu tekanannya justru bertambah karena neraca perdagangan mencatat defisit dua bulan beruntun. Ini pembacaan kami atas data, bukan proyeksi keputusan Rapat Dewan Gubernur berikutnya.
Laporan ini merangkum rilis resmi Indeks Harga Konsumen Badan Pusat Statistik untuk Juli 2026, dipublikasikan 3 Agustus 2026. Angka inflasi tahunan ditarik langsung dari BPS WebAPI oleh sistem ingest Radar Pasar dan dikonfirmasi silang ke paparan BPS yang dikutip beberapa media nasional pada hari yang sama. Seluruh angka bersumber resmi dari BPS; tidak ada estimasi internal dalam laporan ini.
Lihat metodologi lengkap dan disclaimer.
Radar Pasar Weekly
Satu email per minggu: rekap indikator makro terbaru + laporan yang baru terbit. Gratis. Berhenti kapan saja.
FAQ
Selanjutnya
Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan Indonesia Juni 2026 defisit USD 0,45 miliar, defisit kedua beruntun setelah Mei memutus rangkaian 72 bulan surplus. Ekspor USD 25,46 miliar naik 8,84% YoY, impor USD 25,91 miliar melonjak 34,27% YoY. Kumulatif Januari-Juni masih surplus USD 3,58 miliar.
Bank Indonesia menaikkan BI-Rate 25 bps menjadi 5,75% pada RDG 17-18 Juni 2026, kenaikan kedua dalam Juni setelah 5,50% pada 9 Juni. Langkah pre-emptive untuk menjaga stabilitas rupiah dari gejolak global dan inflasi dalam sasaran, dengan kebijakan makroprudensial tetap longgar untuk menopang kredit sektor riil dan UMKM.
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indonesia Juni 2026 sebesar 3,34% secara tahunan (YoY), naik dari 3,08% pada Mei, dengan inflasi bulanan 0,44% dan year-to-date 1,79%. Angka ini mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia 2,5% plus minus 1%, didorong kelompok pangan serta transportasi.
Istilah dalam laporan ini
Klik untuk definisi singkat di glosarium.