Catatan data. Angka resmi dalam laporan ini bersumber dari lembaga publik (BPS, BI, OJK, BEI, asosiasi industri). Figur yang tidak tersedia di sumber resmi adalah estimasi Radar Pasar dengan asumsi terbuka · bukan hasil survei primer. Metodologi.
Snapshot energy mix H1 2026
Porsi EBT pembangkitan
~13-14%
ESDM - dari target 23% (2025)
PLTS
Tumbuh tercepat
rooftop + skala utilitas
Komitmen JETP
USD 20 B
pendanaan transisi internasional
Net Zero
2060
target pemerintah
1. Bauran energi: ~13-14% renewable, masih jauh dari target
Batubara masih menjadi tulang punggung pembangkitan listrik nasional - lebih dari separuh produksi - disusul gas alam. Di sisi energi terbarukan, kontributor terbesar adalah hidro dan panas bumi; surya dan bayu porsinya masih kecil meski tumbuh paling cepat.
Porsi EBT di pembangkitan berada di kisaran 13-14% menurut data Kementerian ESDM. Target lama 23% untuk 2025 (Kebijakan Energi Nasional) tidak tercapai dan belakangan direvisi. Jangkar jangka panjangnya tetap: Net Zero 2060.
Indonesia jelas tertinggal dari target. Tapi momentum beberapa tahun terakhir terasa lebih baik dibanding periode 2018-2022 yang nyaris jalan di tempat.
2. Solar PV - pertumbuhan tercepat
PLTS adalah segmen EBT dengan laju pertumbuhan paling cepat - dari basis yang masih sangat kecil dibanding hidro dan panas bumi. Penambahan kapasitas datang dari tiga jalur sekaligus: rooftop, skala utilitas, dan captive industri.
Radar Pasar Weekly
Data & laporan baru tiap Senin pagi
Satu email per minggu: rekap indikator makro terbaru + laporan yang baru terbit. Gratis. Berhenti kapan saja.
Berapa porsi energi terbarukan dalam bauran energi Indonesia?
Porsi EBT di bauran energi berada di kisaran 13-14% menurut data Kementerian ESDM - di bawah target 23% yang dulu dipatok untuk 2025 dan kemudian direvisi. Kontributor terbesar: hidro dan panas bumi; surya dan bayu masih kecil tapi tumbuh paling cepat.
Apakah PLTS tumbuh paling cepat?
Ya - PLTS (rooftop dan skala utilitas) adalah segmen EBT dengan pertumbuhan tercepat, didorong harga modul surya dunia yang turun tajam dalam beberapa tahun terakhir. Catatan regulasi: aturan PLTS atap terbaru (Permen ESDM 2/2024) menghapus skema ekspor-impor listrik (net metering) dan menggantinya dengan sistem kuota.
Bagaimana nasib PLTU baru?
Perpres 112/2022 melarang pembangunan PLTU baru di luar pipeline yang sudah berjalan dan proyek terintegrasi industri. Pensiun dini PLTU eksisting - bagian dari skema JETP - masih dalam negosiasi pendanaan dan baru menyentuh segelintir pembangkit.
Bagaimana konsumsi listrik Indonesia?
Konsumsi listrik nasional tumbuh sekitar 5% per tahun menurut data PLN, didorong industri (terutama smelter), gedung komersial termasuk data center, dan rumah tangga. Pertumbuhan permintaan inilah yang membuat transisi dari batubara makin menantang.
Apa tantangan transisi energi Indonesia?
Tiga: (1) pendanaan - kebutuhan investasi transisi diestimasi ratusan miliar dolar hingga 2060 (berbagai studi IEA/PLN), jauh di atas komitmen JETP USD 20 miliar, (2) stabilitas grid - EBT intermiten butuh storage yang masih mahal, (3) dampak sosial pensiun PLTU bagi pekerja dan ekonomi daerah penghasil batubara.
Harga modul turun tajam - harga panel surya dunia turun signifikan dalam beberapa tahun terakhir, membuat keekonomian proyek makin masuk akal
Regulasi PLTS atap berubah - Permen ESDM 2/2024 menghapus skema ekspor-impor listrik (net metering) dan menggantinya dengan sistem kuota; insentif rumah tangga berkurang, tapi minat segmen commercial & industrial tetap kuat karena penghematan tagihan tetap nyata
Utility-scale project - PLTS terapung Cirata di Jawa Barat (~145 MW, PLN bersama Masdar) jadi penanda era baru - terbesar di Asia Tenggara saat diresmikan - disusul pipeline proyek skala utilitas lain
Industrial captive - smelter, tekstil, dan pabrik mulai memasang solar untuk menekan biaya listrik sekaligus memenuhi tuntutan rantai pasok global soal energi bersih
3. PLTU: yang baru dilarang, pensiun dini masih alot
Perpres 112/2022 melarang pembangunan PLTU baru di luar pipeline yang sudah berjalan dan proyek terintegrasi industri. Praktisnya: pintu PLTU baru nyaris tertutup, kecuali proyek yang telanjur jalan.
Di sisi pendanaan, JETP (Just Energy Transition Partnership) membawa komitmen USD 20 miliar dari negara-negara maju dan lembaga keuangan untuk mempercepat transisi.
Tapi PLTU eksisting masih beroperasi - dan di sinilah negosiasi paling alot. Early retirement PLTU lama, bagian inti dari skema JETP, baru menyentuh segelintir pembangkit. Pendanaannya belum beres, dan PLN tetap butuh financing tambahan untuk kapasitas pengganti.
4. Hidrogen - masih embrio
Pertamina dan PLN sama-sama menjalankan pilot hidrogen hijau - PLN antara lain mengoperasikan green hydrogen plant yang menempel di pembangkit eksisting serta stasiun pengisian hidrogen pertama di Jakarta.
Skalanya masih sangat kecil: produksi hidrogen hijau nasional masih level pilot, sementara kebutuhan hidrogen industri (pupuk, kilang) jauh lebih besar dan hampir seluruhnya masih dipenuhi grey hydrogen dari gas alam.
Outlook: menarik dalam horizon 10+ tahun seiring ekosistem global hidrogen scaling. Indonesia punya modal sumber daya surya, hidro, dan panas bumi untuk produksi green H2 - tapi keekonomiannya belum ketemu di harga sekarang.
5. Konsumsi listrik - tumbuh ~5% per tahun
Konsumsi listrik nasional tumbuh sekitar 5% per tahun menurut data PLN - dan pertumbuhan permintaan inilah yang membuat transisi dari batubara makin menantang: kapasitas EBT baru harus mengejar permintaan baru sekaligus menggantikan pembangkit lama.
Motor pertumbuhannya:
Industri - ekspansi smelter nikel di Sulawesi dan Maluku Utara (rantai pasok baterai EV global), plus industri baja, kertas, dan tekstil.
Rumah tangga - penetrasi AC naik seiring suhu dan daya beli, ditambah charging EV di rumah yang mulai muncul meski basisnya masih kecil.
Komersial - data center boom: Microsoft mengumumkan komitmen investasi USD 1,7 miliar (2024) dan AWS USD 5 miliar dalam 15 tahun (2021) untuk Indonesia. Kapasitas data center operasional nasional diestimasi ratusan MW dan tumbuh ~20%+ per tahun (estimasi riset industri seperti Mordor/Arizton).
6. Net Zero 2060 - investment gap
Berbagai studi (IEA, PLN) menaksir kebutuhan investasi transisi energi Indonesia sampai 2060 dalam orde ratusan miliar dolar AS - jauh di atas komitmen JETP yang USD 20 miliar.
Uangnya harus datang dari kombinasi capex PLN, pendanaan internasional (JETP dan bilateral), lembaga multilateral dan green bond, serta swasta. Masalahnya bukan sekadar nominal: ruang fiskal PLN terbatas, sementara investor swasta butuh kepastian regulasi dan PPA yang bankable. Gap antara kebutuhan dan komitmen yang sudah terkunci masih sangat lebar - inilah bottleneck nomor satu transisi energi Indonesia.
7. Risiko & hambatan
PLN financial constraint - level utang tinggi, kapasitas untuk capex baru terbatas. Subsidi dan kompensasi dari APBN tetap dibutuhkan.
Grid stability - renewable intermittent (solar = day-only, wind = variable) butuh storage. Battery storage masih mahal, sehingga porsi EBT variabel yang tinggi belum ekonomis tanpa dukungan kebijakan.
Social impact PLTU phase-out - pekerja PLTU + supplier batubara + ekonomi daerah penghasil dan host PLTU butuh transition program yang adil.
Land use untuk solar/wind utility-scale - kebutuhan lahan luas untuk renewable skala besar berpotensi konflik dengan pertanian dan kawasan konservasi.
8. Outlook 2026-2030
Skenario kerja Radar Pasar - asumsi terbuka, bukan prediksi pasti:
Base case:
Porsi renewable naik bertahap, tapi kemungkinan besar masih di bawah target bauran 2030
Laju install solar terus naik, dimotori utility-scale dan captive industri
Early retirement PLTU baru terjadi pada segelintir pembangkit
Hidrogen masih experimental; skala signifikan baru post-2030
Bullish:
Disbursement JETP accelerate dan deal pensiun dini PLTU pertama benar-benar gol
Penambahan solar per tahun naik berlipat seiring kuota PLTS atap dan lelang PLN
Indonesia mulai membangun posisi green-industry (smelter dan kawasan industri berbasis EBT)
Kepentingan batubara + tekanan politik memproteksi PLTU eksisting
Porsi renewable nyaris jalan di tempat sampai 2030
Metodologi
Laporan ini disusun dari data publik resmi (BPS, BI, OJK, BEI, kementerian/lembaga terkait) serta rilis asosiasi industri dan perusahaan, lalu disintesis menjadi analisis dengan asumsi terbuka. Angka non-resmi adalah estimasi Radar Pasar dan diberi label demikian - bukan hasil survei primer.