Kabar Merger MTEL-TBIG Mencuat Lagi, MTEL Cari Bank Penasihat
MTEL dilaporkan meminta proposal dari penasihat keuangan untuk merger dengan TBIG, dengan rencana memilih bank dalam beberapa pekan mendatang. Jika terealisasi, penggabungan dua raksasa menara ini akan melahirkan pemain terbesar di Indonesia.
Kabar merger kembali bergulir
Wacana penggabungan usaha antara dua raksasa menara telekomunikasi, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), kembali mencuat setelah sempat tenggelam. Menurut laporan Bloomberg pada 24 Agustus 2026, MTEL dilaporkan telah meminta sejumlah penasihat keuangan mengajukan proposal terkait rencana merger tersebut, dengan rencana memilih salah satu bank untuk membantu proses transaksi dalam beberapa pekan mendatang. Hingga artikel ini ditulis, MTEL belum memberikan konfirmasi resmi atas perkembangan tersebut.
Kedua emiten ini memiliki bobot pasar yang sangat signifikan. Kapitalisasi pasar MTEL tercatat Rp37,93 triliun per 24 Agustus 2026, sementara TBIG mencapai Rp33,19 triliun. Harga saham MTEL pada hari itu ditutup naik 3,18% menjadi Rp454 per saham, meski secara year-to-date masih terkoreksi 35,14%. Saham TBIG bahkan lebih tertekan dengan koreksi year-to-date sebesar 45,52%.
Rincian kepemilikan dan aset
MTEL saat ini dikuasai oleh PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan kepemilikan sekitar 71,83%. Berdasarkan laporan tahunan, MTEL mengelola lebih dari 40.230 menara telekomunikasi. Pemerintah sendiri memiliki sekitar 52% saham Telkom Indonesia melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Sementara itu, sekitar 81,29% saham TBIG dimiliki oleh Bersama Digital Infrastructure Asia Pte, platform yang dikendalikan oleh Provident Capital, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG), dan unit pengelolaan aset Macquarie Group Ltd. Wahana Anugerah Sejahtera memiliki 9,37% saham TBIG, sedangkan Bangkok Bank Public Company menggenggam 2,13%.
Kinerja keuangan kedua emiten pada semester pertama 2026 menunjukkan pertumbuhan moderat. MTEL membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp1,11 triliun, naik 1,83% dari Rp1,09 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perseroan tumbuh menjadi Rp4,69 triliun dari Rp4,59 triliun secara year-on-year, dengan total aset tercatat sebesar Rp60,10 triliun. TBIG mencatatkan laba periode berjalan Rp863,71 miliar, naik 1,29% dari Rp852,67 miliar, dengan pendapatan Rp3,46 triliun dan total aset Rp48,24 triliun per 30 Juni 2026.
Konteks industri dan upaya konsolidasi
Ini bukan pertama kalinya kabar merger MTEL-TBIG mencuat. Kedua perusahaan pernah menjajaki penggabungan pada 2015, namun gagal terealisasi. Direktur Investasi Mitratel, Noorhayati Candrasuci, sebelumnya menyatakan bahwa perseroan masih mengevaluasi peluang konsolidasi dengan TBIG, meski pembahasannya masih berada pada tahap awal dan membutuhkan waktu panjang hingga mencapai kesepakatan.
Yang menarik, keterikatan bisnis kedua emiten ini semakin erat. Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian, mencatat bahwa porsi kontribusi pendapatan TBIG yang berasal dari ekosistem Telkom Indonesia melonjak dari 33% pada 2025 menjadi 63% pada semester pertama 2026. Perkembangan ini menunjukkan sinergi operasional yang sudah terjalin sebelum merger formal terjadi.
Apa artinya bagi pasar dan investor
Secara strategis, potensi merger ini dapat menciptakan pemain menara telekomunikasi terbesar di Indonesia. Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai penggabungan dapat menghasilkan economies of scale, efisiensi belanja modal dan operasional, serta bargaining power yang lebih kuat terhadap operator telekomunikasi. Jika terealisasi, entitas gabungan akan menguasai porsi penyewaan (tenancy) besar dari operator nonsistem seperti Indosat dan XL Smart, sambil memperkokoh ekosistem menara Telkom Group.
Namun, keberhasilan merger sangat bergantung pada struktur transaksi, valuasi yang wajar, komposisi kepemilikan pasca-merger, potensi dilusi saham, serta persetujuan regulator. Elandry mengingatkan investor agar tidak hanya mengandalkan sentimen sebelum detail transaksi diperjelas. Jika dilakukan dengan valuasi wajar dan sinergi dapat direalisasikan, merger berpotensi memberikan dampak positif jangka menengah-panjang dan membuka peluang re-rating valuasi saham. Investor perlu mencermati perkembangan lebih lanjut, terutama pengumuman resmi dari kedua emiten dan detil struktur transaksi yang akan diajukan.
Istilah dalam berita ini
FAQ
Pertanyaan umum
Apa yang dimaksud dengan merger MTEL dan TBIG?
Apa manfaat potensial merger ini bagi kedua perusahaan?
Aksi korporasi lain
VISI Dapat Pengendali Baru, Siap Transformasi ke Sektor Kesehatan
RATU Komitmen Bagi Dividen dengan Target Peningkatan Tiap Tahun
MTO Savitra (VISI) oleh Raffi-Nagita Tuntas, Tak Ada Publik Ikut
Astra International (ASII) Siapkan Dana Rp8 Triliun untuk Buyback Saham
Disclaimer: Ringkasan dirangkum dari sumber aslinya & dicocokkan terhadapnya. Untuk informasi & edukasi, bukan saran investasi atau ajakan transaksi efek. Rujuk sumber asli dan disclaimer lengkap.