Bank Mandiri, BNI & Telkom Buyback Rp 6 T di Tengah Tekanan IHSG
Tiga emiten BUMN-Bank Mandiri (Rp 1,17 T), BNI (Rp 905 M), dan Telkom (Rp 4 T)-mengumumkan buyback saham untuk memperkuat keyakinan investor dan menjaga stabilitas harga di tengah volatilitas pasar global.
Tiga emiten plat merah-Bank Mandiri (BMRI), Bank Negara Indonesia (BBNI), dan Telkom Indonesia (TLKM)-mengumumkan program pembelian kembali saham (buyback) senilai sekitar Rp 6,08 triliun secara kumulatif, menjawab tekanan pasar modal yang dipengaruhi gejolak global. Langkah ini dibahas dalam pertemuan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad dengan petinggi Himbara, Badan Pengaturan BUMN, dan pemerintah pada 9 Juni 2026, yang menyimpulkan bahwa fundamental bank pelat merah tetap solid meski saham terkoreksi sejalan dengan volatilitas global.
Rincian transaksi
Bank Mandiri (BMRI) mengumumkan buyback pada pertengahan Maret 2026 dengan alokasi dana maksimal Rp 1,17 triliun. Periode pelaksanaan dimulai 30 April 2026 hingga 29 April 2027 (maksimal 12 bulan). Menurut manajemen, program ini bertujuan memperkuat keyakinan investor terhadap nilai jangka panjang perseroan serta mendukung program kepemilikan saham pegawai (ESOP) untuk mendorong keterlibatan berkelanjutan. "Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menjaga keharmonisan antara kondisi pasar dan fundamental Perseroan," tulis manajemen BMRI dalam keterbukaan informasi.
Bank Negara Indonesia (BBNI) menetapkan buyback dengan nilai transaksi maksimal Rp 905,48 miliar (termasuk biaya transaksi) berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar 9 Maret 2026 untuk tahun buku 2025. Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menyatakan keputusan ini menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek jangka panjang sekaligus memberikan fleksibilitas dalam penguatan permodalan.
Telkom Indonesia (TLKM) mengalokasikan Rp 4 triliun untuk buyback yang disetujui RUPST 8 Juni 2026. Program berjalan 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027, dengan tujuan meningkatkan nilai pemegang saham dan menjaga stabilitas harga saham. Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menegaskan komitmen perseroan melakukan percepatan transformasi TLKM 30 secara disiplin dan terukur untuk membangun ekosistem digital nasional yang inklusif dan berdaya saing global.
Konteks
Buyback saham merupakan strategi defensif yang lazim digunakan emiten ketika harga saham dinilai undervalued dibanding fundamental. Dalam sektor perbankan dan telekomunikasi, aksi ini biasa dilakukan untuk menunjukkan kepercayaan diri manajemen sekaligus menopang harga saham di tengah tekanan pasar. Pertemuan DPR dengan Himbara dan regulator BUMN mencerminkan koordinasi antara legislatif, eksekutif, dan korporasi BUMN dalam menjaga stabilitas pasar domestik yang terdampak sentimen global.
Apa artinya
Implikasinya, aksi buyback senilai lebih dari Rp 6 triliun ini mengirim sinyal bahwa manajemen ketiga emiten-khususnya dua bank Himbara-percaya valuasi saat ini tidak mencerminkan kinerja fundamental yang tetap solid. Bagi pemegang saham, buyback berpotensi mengurangi jumlah saham beredar (menaikkan earnings per share) dan memberikan price support jangka pendek. Namun perlu dicermati bahwa efektivitas buyback bergantung pada eksekusi harga beli dan konsistensi fundamental ke depan; jika tekanan eksternal berlanjut, penyangga harga mungkin terbatas.
Perlu diperhatikan pula bahwa BMRI dan TLKM memiliki periode buyback yang panjang (12 bulan), memberikan fleksibilitas timing untuk memaksimalkan dampak. Sementara BBNI belum mengumumkan jadwal eksekusi rinci, sehingga investor perlu memantau laporan realisasi buyback berkala di Bursa Efek Indonesia. Secara keseluruhan, koordinasi antara DPR, BP BUMN, dan emiten menunjukkan upaya proaktif menjaga kepercayaan pasar terhadap saham-saham strategis nasional, namun pemulihan harga tetap akan sangat dipengaruhi arah sentimen global dan kinerja operasional masing-masing perusahaan.
FAQ
Pertanyaan umum
Mengapa Bank Mandiri, BNI, dan Telkom melakukan buyback saham?
Kapan periode buyback masing-masing emiten berlangsung?
Aksi korporasi lain
Pemegang Saham Pengendali PGUN Akan Lepas 4,88% untuk Kejar Free Float
SOFA Masuk Konsorsium WtE Danantara Bersama Zhejiang Weiming
TLKM Bagikan Dividen Rp21,9 Triliun, ENRG Raih Dana Rp338 Miliar
Elnusa (ELSA) Bagi Dividen Rp323 Miliar, 45% dari Laba Bersih 2025
Disclaimer: Ringkasan dirangkum dari sumber aslinya & dicocokkan terhadapnya. Untuk informasi & edukasi, bukan saran investasi atau ajakan transaksi efek. Rujuk sumber asli dan disclaimer lengkap.