JELI Umumkan Kebijakan Dividen Hingga 30% Laba Bersih Mulai 2026
PT Niramas Utama Tbk (JELI) menetapkan kebijakan pembagian dividen tunai dengan rasio maksimal 30% dari laba bersih setelah cadangan wajib, berlaku mulai laba tahun buku 2026. Potensi dividen berdasarkan laba 2025 diperkirakan Rp9,25 per saham.
PT Niramas Utama Tbk (JELI), produsen makanan dan minuman penutup dengan merek INACO, mengumumkan kebijakan dividen baru yang akan berlaku mulai tahun buku 2026. Direktur Perseroan Adhi Lukman menyampaikan bahwa JELI berencana membagikan dividen tunai dengan rasio maksimal 30 persen dari laba bersih setelah penyisihan cadangan wajib.
Pengumuman ini menjadi salah satu strategi pertumbuhan jangka panjang emiten yang baru saja menyelesaikan penawaran umum perdana (IPO) dengan harga Rp900 per saham. Per Senin (13/7/2026), saham JELI diperdagangkan di level Rp1.275 setelah mengalami koreksi 14,72 persen, namun masih berada di atas harga IPO.
Rincian Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen JELI akan mulai berlaku untuk pembagian dari laba tahun buku 2026. Berdasarkan kinerja tahun buku 2025, Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp39,03 miliar, setara dengan laba per saham (EPS) Rp30,83.
Dengan asumsi penerapan rasio pembayaran dividen maksimal 30 persen dari laba bersih 2025, potensi dividen tunai diperkirakan mencapai sekitar Rp9,25 per saham. Pada harga saham Rp1.275, angka tersebut setara dengan dividend yield sekitar 0,73 persen.
Pada level harga tersebut, valuasi JELI tercatat pada price to earnings ratio (PER) sekitar 41,4 kali. Perlu dicatat bahwa kebijakan dividen ini tetap mempertimbangkan kondisi keuangan Perseroan, kebutuhan ekspansi usaha, serta akan memerlukan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Konteks dan Target Pertumbuhan
Sebagai emiten yang baru mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia, JELI tengah menjalankan strategi pertumbuhan agresif. Untuk tahun 2026, Perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 26 persen yang akan didorong melalui peningkatan kapasitas produksi, penguatan jaringan distribusi, serta pengembangan produk baru.
Dengan asumsi pertumbuhan laba sejalan dengan target pendapatan, laba bersih 2026 diproyeksikan berpotensi meningkat menjadi sekitar Rp49,17 miliar dengan EPS sekitar Rp38,84 per saham. Proyeksi ini menunjukkan potensi peningkatan signifikan dari kinerja tahun sebelumnya.
Saham JELI sempat mencatatkan penguatan hingga menyentuh Auto Reject Atas (ARA) selama tiga hari berturut-turut sejak debut perdagangan, mencerminkan antusiasme investor terhadap emiten yang mengalami oversubscription hingga 273,37 kali dengan partisipasi lebih dari 600 ribu investor saat IPO.
Apa Artinya Bagi Investor
Pengumuman kebijakan dividen ini menunjukkan komitmen manajemen JELI untuk memberikan imbal hasil kepada pemegang saham sambil tetap menyeimbangkan kebutuhan pendanaan ekspansi. Rasio pembayaran maksimal 30 persen memberikan fleksibilitas bagi Perseroan untuk menahan sebagian besar laba guna mendukung rencana pertumbuhan.
Namun perlu dicermati bahwa kebijakan ini bersifat "maksimal" dan bukan jaminan, sehingga pembagian dividen aktual akan bergantung pada kinerja keuangan, kebutuhan modal kerja, dan keputusan RUPS. Bagi investor yang berorientasi dividend yield, angka ~0,73 persen (pada asumsi payout penuh 30%) relatif moderat dibandingkan emiten-emiten konsumer mapan lainnya.
Yang lebih penting untuk dicermati adalah kemampuan JELI merealisasikan target pertumbuhan pendapatan 26 persen di tengah persaingan industri makanan-minuman yang ketat. Keberhasilan ekspansi kapasitas dan penetrasi pasar akan menjadi kunci keberlanjutan pertumbuhan laba-yang pada gilirannya menentukan besaran dividen aktual yang dapat dibagikan ke depan.
Investor disarankan memantau laporan keuangan kuartalan untuk memvalidasi tren pertumbuhan dan efektivitas strategi ekspansi Perseroan.
Istilah dalam berita ini
FAQ
Pertanyaan umum
Kapan kebijakan dividen JELI mulai berlaku?
Berapa potensi dividen JELI berdasarkan kinerja 2025?
Aksi korporasi lain
BRNA Gelar Rights Issue III Rp372,6 M, Targetkan Konversi Utang
BMHS Bayar Dividen Rp8,8 Miliar, BSBK Gelar RUPS Hari Ini
Pos Indonesia Tunda Pembayaran Imbal Hasil Sukuk, Likuiditas Tertekan
Dana IPO NATO Rp127,72 M Mengendap 7 Tahun, Pengendali Berganti
Disclaimer: Ringkasan dirangkum dari sumber aslinya & dicocokkan terhadapnya. Untuk informasi & edukasi, bukan saran investasi atau ajakan transaksi efek. Rujuk sumber asli dan disclaimer lengkap.