Danantara Ubah Telkom (TLKM) Jadi Strategic Holding, Pangkas 67 Entitas
Danantara mendorong transformasi peran TLKM dari operating holding menjadi strategic holding, memangkas struktur dari 67 menjadi 18 entitas. Rencana pemisahan InfraCo Tahap II senilai Rp 49,86 triliun ke InfraNexia menjadi bagian restrukturisasi besar-besaran ini.
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) tengah menjalani transformasi struktural besar-besaran di bawah arahan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, mengumumkan bahwa peran TLKM akan diubah dari operating holding menjadi strategic holding dengan memangkas drastis jumlah entitas kelola dari 67 menjadi target 18 entitas. Perubahan ini dikonfirmasi setelah pertemuan dengan Direktur Utama TLKM Dian Siswarini pada 19 Agustus 2026.
Rincian Transformasi
Dalam struktur baru, TLKM akan fokus pada pengelolaan portofolio, alokasi modal, tata kelola, sinergi grup, dan penciptaan nilai-bukan lagi operasional langsung. Saat ini TLKM mengelola 67 entitas yang terdiri dari 58 anak perusahaan dan sembilan investasi minoritas. Hingga pertengahan 2026, perseroan telah memangkas 34 entitas dari struktur grupnya sebagai bagian proses penyederhanaan.
Salah satu aksi korporasi material dalam transformasi ini adalah rencana pemisahan unit Wholesale Fiber Connectivity atau InfraCo Tahap II kepada PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF/InfraNexia) dengan nilai transaksi mencapai Rp 49,86 triliun. Pemisahan ini melanjutkan InfraCo Tahap I yang telah diselesaikan pada Januari 2026.
Dalam model baru, aktivitas operasional akan dijalankan oleh entitas bisnis (operating company/OpCo) yang lebih fokus sesuai bidang masing-masing. TLKM sebagai induk akan berperan strategis dalam pengelolaan portofolio dan alokasi sumber daya grup.
Konteks Restrukturisasi
Transformasi ini sejalan dengan strategi TLKM 30 dan sinergi dengan Danantara dalam memperkuat kapabilitas digital nasional. Restrukturisasi juga mencakup bisnis enterprise, yang saat ini menyumbang sekitar 11% terhadap pendapatan Telkom atau sekitar Rp 19 triliun. Menurut Direktur Enterprise & Business Service Telkom, Veranita Yosephine, kontribusi ini masih memiliki ruang peningkatan, mengingat pada perusahaan telekomunikasi global segmen enterprise dapat menyumbang 20%-30% atau lebih dari total pendapatan.
Penataan segmen B2B ditujukan untuk membenahi organisasi, memperkuat tata kelola, dan menyederhanakan proses bisnis. TLKM akan memperkuat layanan digital seperti AI, cloud, pusat data, managed services, IoT, hingga cyber security-yang membutuhkan dukungan konektivitas tangguh, aman, dan berkapasitas tinggi.
Apa Artinya Bagi Pemegang Saham
Transformasi menuju strategic holding berimplikasi signifikan bagi investor TLKM. Secara konseptual, model ini dapat meningkatkan fokus strategis dan efisiensi tata kelola, berpotensi membuka nilai (value unlock) dari aset-aset yang sebelumnya tersebar dalam struktur kompleks. Pemisahan unit infrastruktur senilai Rp 49,86 triliun menunjukkan skala restrukturisasi yang substansial.
Namun perlu dicermati, proses transformasi sedemikian besar mengandung risiko eksekusi-termasuk potensi gangguan operasional selama transisi dan tantangan integrasi pasca-pemisahan. Investor sebaiknya memantau detail pelaksanaan pemisahan InfraCo Tahap II, termasuk mekanisme transaksi, valuasi, dan dampaknya terhadap struktur permodalan TLKM.
Dari perspektif jangka panjang, penyederhanaan struktur grup-jika berhasil-dapat meningkatkan transparansi, efisiensi alokasi modal, dan daya saing TLKM dalam ekosistem digital yang semakin kompetitif. Penguatan segmen enterprise juga menjadi katalis potensial, mengingat gap kontribusi dibanding benchmark global. Kejelasan roadmap pasca-transformasi dan metrik kinerja baru akan menjadi kunci penilaian pasar ke depan.
Istilah dalam berita ini
FAQ
Pertanyaan umum
Apa perbedaan operating holding dan strategic holding?
Apa dampak pemisahan InfraCo Tahap II senilai Rp 49,86 triliun?
Aksi korporasi lain
VISI Dapat Pengendali Baru, Siap Transformasi ke Sektor Kesehatan
RATU Komitmen Bagi Dividen dengan Target Peningkatan Tiap Tahun
MTO Savitra (VISI) oleh Raffi-Nagita Tuntas, Tak Ada Publik Ikut
Astra International (ASII) Siapkan Dana Rp8 Triliun untuk Buyback Saham
Disclaimer: Ringkasan dirangkum dari sumber aslinya & dicocokkan terhadapnya. Untuk informasi & edukasi, bukan saran investasi atau ajakan transaksi efek. Rujuk sumber asli dan disclaimer lengkap.