INET Catat Lonjakan Pendapatan 1.958% Usai Akuisisi PADA
PT Sinergi Inti Andalan Prima (INET) mencatat pendapatan Rp926,45 miliar di semester I 2026, melonjak 1.958,68% YoY, didorong konsolidasi PT Personel Alih Daya (PADA) yang berkontribusi 84,5% dari total pendapatan.
Transformasi INET lewat akuisisi PADA
PT Sinergi Inti Andalan Prima (INET) mencatat transformasi kinerja signifikan pada semester I 2026, dengan pendapatan mencapai Rp926,45 miliar-melonjak 1.958,68% dibandingkan Rp45 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih perseroan tercatat Rp33,67 miliar, naik 340,01% year-on-year dari Rp7,65 miliar di 1H25. Lonjakan dramatis ini terutama didorong oleh konsolidasi perusahaan hasil akuisisi.
Rincian kinerja dan aksi korporasi INET
Penggerak utama pertumbuhan pendapatan INET adalah konsolidasi PT Personel Alih Daya (PADA), yang mulai dikonsolidasikan sejak 31 Januari 2026. PADA memberikan kontribusi pendapatan sebesar Rp782,87 miliar atau sekitar 84,5% terhadap total pendapatan INET di semester pertama. Laba bruto perseroan naik 627,53% secara tahunan menjadi Rp122,11 miliar.
Namun, masuknya bisnis jasa padat karya dengan margin lebih rendah berdampak pada profitabilitas. Margin bruto INET turun dari 37,3% pada periode sebelumnya menjadi 13,2% di 1H26. Perubahan struktur bisnis ini mencerminkan transformasi INET dari perusahaan dengan margin tinggi ke model bisnis berbasis volume.
Selain bisnis alih daya tenaga kerja, INET juga melakukan ekspansi di sektor layanan internet melalui akuisisi penyedia internet, termasuk THC yang beroperasi di Kalimantan. Untuk mendanai ekspansi agresif ini, perseroan telah menghimpun dana melalui rights issue senilai Rp3,20 triliun serta penerbitan obligasi dan sukuk dengan nilai hingga Rp1 triliun.
Dampak dari aksi korporasi tersebut terlihat jelas pada neraca. Total aset INET pada 1H26 membengkak menjadi Rp6,11 triliun dari Rp760,37 miliar pada FY25. Kas dan setara kas meningkat drastis menjadi Rp4,34 triliun dari Rp404,44 miliar. Liabilitas naik menjadi Rp2,30 triliun dari Rp331,16 miliar, sementara ekuitas bertambah menjadi Rp3,81 triliun dari Rp429,21 miliar.
INDY genjot distribusi kendaraan listrik
PT Indika Energy (INDY) terus mengakselerasi diversifikasi bisnis di luar batu bara melalui pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Hingga September 2026, ALVA-anak usaha yang menangani motor listrik-telah mendistribusikan 20.000 unit, dua kali lipat dari 10.000 unit sepanjang FY25.
Di segmen kendaraan komersial, KALISTA saat ini mengelola 101 unit bus listrik dan mengoperasikan 225 charging station di 120 lokasi. INDY mengarahkan strategi ke penggunaan komersial, termasuk sektor pertambangan, dengan membuka peluang pendapatan berulang melalui layanan pendukung. Ilectra Motor Group/Invi fokus pada distribusi bus dan truk listrik untuk industri serta pertambangan.
Kinerja keuangan INDY di 1H26 menunjukkan pendapatan US$1,15 miliar, naik 19,87% dari US$956,82 juta di 1H25. Laba bersih melonjak 354,30% menjadi US$10,20 juta dari US$2,24 juta.
UVCR selesaikan buyback
PT Trimegah Karya Pratama (UVCR) mengakhiri program buyback 2026 setelah mencapai target. Perseroan membeli kembali 9,60 juta saham atau sekitar 0,48% dari total saham yang tercatat di BEI, dengan dana Rp1,50 miliar dan harga rata-rata Rp156 per saham. Pembelian dilakukan dalam dua hari: 3,84 juta saham pada 10 September (Rp159/saham) dan 5,76 juta saham pada 11 September (Rp153/saham).
Apa artinya
Transformasi INET melalui akuisisi PADA menunjukkan perubahan model bisnis fundamental-dari perusahaan margin tinggi ke pemain berbasis volume di sektor padat karya. Implikasinya, investor perlu menyesuaikan ekspektasi valuasi dengan struktur bisnis baru yang memiliki karakterik margin lebih tipis namun potensi skala lebih besar. Perlu dicermati bagaimana manajemen akan mengoptimalkan efisiensi operasional dan mengintegrasikan berbagai lini bisnis baru untuk meningkatkan profitabilitas jangka panjang.
Strategi diversifikasi INDY ke kendaraan listrik mencerminkan upaya mengurangi ketergantungan pada batu bara, seiring transisi energi global. Fokus pada segmen komersial dan fleet management berpotensi menghasilkan revenue stream yang lebih stabil dibanding penjualan ritel. Namun, perlu diperhatikan bahwa bisnis ini masih dalam tahap pengembangan dan belum tentu langsung memberikan kontribusi laba signifikan dalam jangka pendek.
Istilah dalam berita ini
FAQ
Pertanyaan umum
Mengapa pendapatan INET naik drastis di semester I 2026?
Bagaimana perkembangan bisnis kendaraan listrik INDY?
Aksi korporasi lain
Singaraja Putra (SINI) Lepas 54% Saham Anak Usaha Rp31,8 Miliar
Danantara Tanggapi Rencana Ambil 40,12% Saham BEI via Rights Issue
BYAN Umumkan Force Majeure 3 Anak Usaha Akibat RKAB Belum Disetujui
Danantara Berpotensi Kuasai 40,12% BEI Lewat Rights Issue Demutualisasi
Disclaimer: Ringkasan dirangkum dari sumber aslinya & dicocokkan terhadapnya. Untuk informasi & edukasi, bukan saran investasi atau ajakan transaksi efek. Rujuk sumber asli dan disclaimer lengkap.