Grup Djarum Perkuat Cengkeraman di BTEL saat Ancaman Delisting
Enam entitas afiliasi menara telekomunikasi Grup Djarum mengonversi OWK menjadi 6,31 miliar saham BTEL pada harga Rp 200 per saham, dengan Protelindo kini menguasai 10,86% kepemilikan. Langkah ini terjadi saat emiten telekomunikasi milik Grup Bakrie itu menghadapi potensi delisting setelah tersuspensi sejak 2019.
Grup Djarum memperkuat cengkeramannya di PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) melalui konversi masif Obligasi Wajib Konversi (OWK) menjadi saham oleh enam entitas afiliasi bisnis menara telekomunikasinya. Berdasarkan data kepemilikan saham per 20 Agustus 2026, konversi ini menambahkan 6,31 miliar saham baru BTEL pada harga Rp 200 per saham, meningkatkan total saham beredar dari 38,33 miliar menjadi 44,64 miliar saham. Langkah ini terjadi di tengah ancaman delisting yang menggantung atas emiten telekomunikasi milik Grup Bakrie tersebut.
PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) menjadi entitas dengan konversi terbesar, mengantongi 4,84 miliar saham atau setara 10,86% kepemilikan BTEL. Posisi ini menjadikan Protelindo sebagai pemegang saham signifikan di emiten yang sahamnya telah digembok Bursa Efek Indonesia (BEI) di level Rp 50 per saham sejak 2019.
Rincian Transaksi
Konversi OWK dilaksanakan pada 20 Agustus 2026 dengan harga pelaksanaan Rp 200 per saham, jauh di atas harga penutupan terakhir sebelum suspensi. Enam entitas afiliasi Grup Djarum yang mengonversi kepemilikan OWK-nya adalah:
- PT Profesional Telekomunikasi Indonesia: 4,84 miliar saham
- PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR): 888,12 juta saham
- PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST): 250,80 juta saham
- PT Reka Jasa Akses: 247,49 juta saham
- PT Komet Infra Nusantara: 47,35 juta saham
- PT Sarana Inti Persada: 35,50 juta saham
Total konversi sebesar 6,31 miliar saham baru mengubah struktur kepemilikan BTEL secara signifikan. Sebelum konversi, berdasarkan data per 31 Juli 2026, pemegang saham terbesar adalah PT Huawei Tech Investment dengan 16,15%, PT Mahindo Agung Sentosa dengan 13,05%, dan PT Biofuel Indo Sumatra dengan 8,21%.
Konteks
Masuknya Grup Djarum ke dalam struktur kepemilikan BTEL terjadi pada saat yang krusial bagi emiten telekomunikasi ini. Saham BTEL telah dihentikan perdagangannya oleh BEI sejak 27 Mei 2019 menyusul laporan keuangan auditan untuk tahun buku 2017 dan 2018 yang memperoleh opini Tidak Menyatakan Pendapat (Disclaimer of Opinion) selama dua tahun berturut-turut.
Corporate Secretary BTEL, Purwoko Suatmadji, menyatakan perseroan terus berupaya memperbaiki kinerja keuangan. Laporan keuangan BTEL sejak periode 30 September 2020 hingga tahun buku Desember 2024 telah memperoleh opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP) dari auditor, menunjukkan perbaikan meski belum sempurna.
Grup Djarum, yang dimiliki keluarga Hartono, memiliki ekosistem bisnis luas termasuk dalam industri infrastruktur telekomunikasi melalui berbagai entitas menara. Kehadiran mereka di BTEL menandai ekspansi ke segmen operator telekomunikasi, meski dalam kondisi yang menantang.
Apa Artinya
Konversi OWK oleh entitas-entitas afiliasi Grup Djarum mengindikasikan kepercayaan atau strategi jangka panjang terhadap aset BTEL, meskipun perusahaan tengah menghadapi potensi delisting. Implikasinya, struktur kepemilikan BTEL kini didominasi oleh pemain baru dengan kapasitas finansial yang lebih kuat, yang berpotensi membawa perubahan dalam strategi pemulihan perusahaan.
Bagi pemegang saham lama, konversi ini menimbulkan dilusi kepemilikan yang signifikan-jumlah saham beredar meningkat 16,5%. Namun, kehadiran pemain besar seperti Grup Djarum dapat menjadi sinyal positif dalam upaya restrukturisasi dan pemulihan kondisi keuangan BTEL untuk menghindari delisting.
Perlu dicermati ke depan adalah langkah konkret yang akan diambil manajemen baru untuk memperbaiki kinerja operasional dan keuangan BTEL. Dengan harga konversi Rp 200 per saham-empat kali lipat dari harga suspensi Rp 50-investor baru ini tampaknya memiliki keyakinan terhadap nilai fundamental atau potensi pemulihan perusahaan. Respons BEI terhadap upaya perbaikan BTEL juga akan menjadi faktor kunci dalam menentukan nasib perdagangan saham ini ke depan.
Istilah dalam berita ini
FAQ
Pertanyaan umum
Mengapa saham BTEL tersuspensi sejak 2019?
Apa dampak konversi OWK terhadap pemegang saham lama BTEL?
Aksi korporasi lain
VISI Dapat Pengendali Baru, Siap Transformasi ke Sektor Kesehatan
RATU Komitmen Bagi Dividen dengan Target Peningkatan Tiap Tahun
MTO Savitra (VISI) oleh Raffi-Nagita Tuntas, Tak Ada Publik Ikut
Astra International (ASII) Siapkan Dana Rp8 Triliun untuk Buyback Saham
Disclaimer: Ringkasan dirangkum dari sumber aslinya & dicocokkan terhadapnya. Untuk informasi & edukasi, bukan saran investasi atau ajakan transaksi efek. Rujuk sumber asli dan disclaimer lengkap.