Berapa kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia?
Per 2025, kunjungan wisman mendekati level sebelum pandemi (sekitar 16 juta di 2019), didorong pelonggaran perjalanan, perluasan visa-on-arrival, dan kalender event internasional. Devisa pariwisata ikut pulih ke kisaran belasan miliar dolar AS.
Kenapa pariwisata Indonesia masih bergantung pada Bali?
Hampir separuh wisman masuk lewat Bali, sehingga pariwisata nasional rentan terhadap gangguan di satu pulau. Bali sendiri menghadapi tekanan over-tourism, mendorong penerapan pungutan wisatawan asing dan upaya diversifikasi ke destinasi lain.
Apa itu 5 Destinasi Super Prioritas?
Program pemerintah untuk menyebarkan arus wisatawan ke luar Bali, mencakup Danau Toba (Sumut), Borobudur (Jateng), Mandalika (NTB), Labuan Bajo (NTT), dan Likupang (Sulut). Hasilnya beragam - sebagian menarik perhatian lewat event, tapi keseluruhan belum menarik volume sepadan dengan Bali.
Pergeseran dari mengejar jumlah kunjungan ke mengejar nilai per kunjungan - belanja per wisatawan dan lama tinggal lebih ditekankan. Didukung kebijakan visa bernilai tinggi (Golden Visa, visa rumah kedua) dan segmen MICE serta wisata halal.
Apa hambatan terbesar pariwisata Indonesia?
Konektivitas dan harga tiket pesawat yang tinggi pasca-pandemi (menahan diversifikasi ke non-Bali), infrastruktur destinasi prioritas yang belum matang, pemulihan pasar Tiongkok yang lebih lambat, serta ketergantungan pada Bali.
Indonesia memasok ~55% nikel dunia dan ekspor produk olahannya menembus USD 30 miliar di 2025. Tapi harga LME anjlok 22% akibat surplus yang dipicu sendiri, dan tekanan ESG menguji model hilirisasi.
Angka kunci pariwisata 2026
Kunjungan wisman 2025
~15 juta
mendekati 2019
Devisa pariwisata
USD 16+ B
pemulihan
Perjalanan wisnus
1 miliar+
volume domestik
Pangsa Bali (wisman)
~45%
over-konsentrasi
Destinasi prioritas
5 DSP
diversifikasi
Fokus strategi
Quality
bukan sekadar volume
Berdasarkan kompilasi Radar Pasar dari data BPS, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta statistik devisa Bank Indonesia, sektor pariwisata Indonesia 2026 berada di titik pemulihan yang nyata namun belum merata. Cerita besarnya bukan lagi "apakah turis kembali", melainkan "apakah manfaatnya bisa menyebar ke luar Bali dan bergeser ke kualitas".
1. Pemulihan yang nyata
Setelah hantaman pandemi, indikator utama kembali menanjak:
Wisatawan mancanegara mendekati level 2019 (sekitar 16 juta kunjungan), didorong pelonggaran perjalanan, perluasan visa-on-arrival, dan kalender event internasional.
Devisa pariwisata ikut pulih ke kisaran belasan miliar dolar AS, salah satu penyumbang devisa jasa terbesar.
Wisatawan nusantara menembus miliaran perjalanan - volume domestik yang jauh lebih besar dan lebih tahan guncangan global daripada arus wisman.
2. Ketergantungan pada Bali
Ketergantungan ini adalah alasan utama pemerintah mendorong diversifikasi destinasi.
3. Diversifikasi: lima destinasi super prioritas
Program "5 Destinasi Super Prioritas" (DSP) diarahkan untuk menyebarkan arus wisatawan ke luar Bali:
Destinasi
Lokasi
Daya tarik utama
Danau Toba
Sumatera Utara
Danau vulkanik terbesar, budaya Batak
Borobudur
Jawa Tengah
Candi Buddha terbesar, wisata budaya
Mandalika
NTB
Sirkuit MotoGP, pantai
Labuan Bajo
NTT
Komodo, wisata bahari premium
Likupang
Sulawesi Utara
Pantai, menyelam
Hasilnya beragam. Labuan Bajo dan Mandalika menarik perhatian lewat event dan positioning premium, tapi secara keseluruhan kelima DSP belum menarik volume sepadan dengan Bali. Pekerjaan rumahnya jelas: konektivitas penerbangan, amenitas, dan kualitas pengalaman.
4. Pergeseran strategi: kualitas di atas kuantitas
Narasi kebijakan bergeser dari mengejar jumlah kunjungan ke mengejar nilai per kunjungan:
Belanja per wisatawan dan lama tinggal menjadi metrik yang lebih ditekankan daripada sekadar jumlah kepala.
Kebijakan visa diarahkan menarik segmen bernilai tinggi: perluasan visa-on-arrival, Golden Visa untuk investor dan talenta, serta visa rumah kedua (second-home) untuk tinggal lebih lama.
MICE dan wisata halal menjadi segmen pertumbuhan yang ditargetkan, memanfaatkan posisi Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar.
5. Hambatan
Konektivitas dan harga tiket. Tarif penerbangan yang tinggi pasca-pandemi dan rute terbatas ke destinasi non-Bali menahan diversifikasi.
Infrastruktur DSP yang belum matang di sebagian destinasi.
Pemulihan pasar Tiongkok yang lebih lambat, mendorong perlunya diversifikasi sumber wisatawan (India, Timur Tengah, ASEAN, Australia).
Musiman dan isu perilaku wisatawan yang sesekali viral dan memengaruhi citra.
6. Implikasi dan outlook 2026-2027
Pemulihan berlanjut, kualitas jadi pembeda. Angka wisman kemungkinan melampaui level 2019, tapi keberhasilan diukur dari nilai ekonomi, bukan sekadar volume.
Diversifikasi adalah ujian eksekusi. Tanpa lompatan konektivitas dan amenitas, dominasi Bali sulit dipecah.
Visa bernilai tinggi jadi alat. Golden Visa dan second-home visa berpotensi menumbuhkan segmen long-stay yang berdampak besar.
Domestik adalah jangkar. Wisatawan nusantara memberi basis permintaan yang stabil saat arus internasional bergejolak.
Risiko utama: ketergantungan Bali, konektivitas dan biaya perjalanan, pemulihan pasar sumber yang tidak merata, serta daya beli global.
Seri terkait: Pertumbuhan vs Kendala
Laporan ini bagian dari seri Radar Pasar yang menelaah sektor di mana pertumbuhan besar Indonesia berhadapan dengan kendala struktural: