Protelindo (TOWR) Garap Konektivitas Stratosfer via Joint Venture
Anak usaha Sarana Menara Nusantara (TOWR) membentuk perusahaan patungan World Mobile Stratospheric untuk komersialisasi teknologi SkyMast-platform konektivitas 4G/5G dari stratosfer langsung ke ponsel-di seluruh Indonesia, menargetkan deployment komersial 2027 · 2029.
PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) yang merupakan bagian dari Grup Djarum, melangkah ke model infrastruktur telekomunikasi baru dengan membentuk perusahaan patungan World Mobile Stratospheric bersama World Mobile Group. Melalui kerja sama ini, Protelindo menjadi mitra tunggal yang memegang hak operasional dan komersialisasi teknologi konektivitas stratosfer bernama SkyMast di seluruh Indonesia. SkyMast dirancang memancarkan jaringan 4G dan 5G langsung dari udara ke ponsel standar tanpa memerlukan menara seluler atau parabola tambahan-menawarkan solusi bagi wilayah yang sulit dijangkau infrastruktur konvensional.
Rincian teknologi dan target deployment
SkyMast menggunakan platform pesawat yang beroperasi di stratosfer (bukan satelit), membawa antena phased-array yang dapat mengarahkan sinyal secara presisi ke wilayah tertentu. Platform ini diposisikan sebagai solusi cepat untuk konektivitas darurat: layanan 4G/5G dapat terhubung ke ponsel di darat dalam hitungan jam setelah bencana, tanpa menara atau lokasi jaringan tetap.
Selain SkyMast, World Mobile Stratospheric juga mengembangkan platform stratosfer skala penuh dengan antena phased-array berukuran sekitar tiga meter. Platform ini dirancang menyediakan cakupan hingga 15.000 kilometer persegi dari satu unit, menggunakan hidrogen sebagai sumber energi, dan dapat bertahan di udara hingga sekitar delapan hari. Teknologi ini ditujukan untuk wilayah pedesaan, pulau terpencil, kawasan pertambangan, maritim, dan kebutuhan jaringan darurat.
Menurut roadmap resmi, teknologi 4G telah didemonstrasikan pada 2020, sedangkan teknologi 5G beam-forming dan phased-array divalidasi pada 2023. Pada 2024, perusahaan menyebut telah mendemonstrasikan koneksi 5G langsung ke perangkat dengan kecepatan 90 Mbps dalam pengujian bersama BT dan Kementerian Pertahanan Inggris. Pada 2026, antena phased-array mulai menjalani flight test menggunakan pesawat Britten-Norman Islander. Target deployment SkyMast pertama dijadwalkan 2027, uji terbang platform StratoMast skala penuh mulai 2028, dan deployment komersial pertama pada 2028 atau 2029.
Konteks: dari menara konvensional ke "menara terbang"
Protelindo adalah penyedia infrastruktur telekomunikasi independen terbesar di Indonesia, berdiri sejak 2003 dengan bisnis inti menyewakan ruang pada menara telekomunikasi kepada operator seluler. Per Maret 2026, perusahaan menyatakan memiliki dan mengoperasikan sekitar 36.572 lokasi menara dan 60.734 penyewa, serta jaringan fiber optik sekitar 181.700 kilometer.
Masuknya Protelindo ke konektivitas stratosfer menandai ekspansi ke model infrastruktur berbeda dari bisnis inti menara darat. Jika menara konvensional membutuhkan pembangunan fisik di lokasi, platform stratosfer membawa antena ke ketinggian tinggi sehingga dapat memberikan cakupan luas-terutama di wilayah yang pembangunan BTS-nya sulit atau kurang ekonomis.
World Mobile Stratospheric adalah nama dagang dari Combined Space Technology Ltd, entitas patungan yang dibentuk khusus untuk mengembangkan konektivitas dari stratosfer.
Apa artinya bagi TOWR dan pasar
Secara strategis, langkah ini menunjukkan diversifikasi model bisnis TOWR dari penyewaan menara konvensional ke teknologi konektivitas udara-segmen yang masih dalam tahap pre-komersial namun berpotensi melayani area yang belum terjangkau infrastruktur eksisting. Implikasinya, Protelindo dapat menawarkan solusi hybrid: menara darat untuk area padat, platform stratosfer untuk wilayah remote atau darurat.
Namun, perlu dicermati bahwa teknologi ini masih dalam fase pengembangan menuju komersialisasi, dengan target deployment perdana baru pada 2027. Investor perlu memantau:
- Progress teknis dan regulasi: uji terbang 2026, perizinan frekuensi dan operasi di Indonesia.
- Model bisnis dan ekonomi unit: biaya operasi platform stratosfer vs. potensi pendapatan sewa.
- Kompetisi: satelit LEO (seperti Starlink) juga menargetkan konektivitas remote; bagaimana positioning SkyMast.
- Skala deployment: berapa unit platform akan dioperasikan di Indonesia, dan dampaknya terhadap pendapatan TOWR jangka menengah-panjang.
Secara umum, ini adalah sinyal bahwa operator infrastruktur telekomunikasi Indonesia mulai mengeksplorasi teknologi next-generation untuk memperluas jangkauan-namun kontribusi finansial riil baru akan terlihat pasca-2027 jika deployment berjalan sesuai rencana.
Istilah dalam berita ini
FAQ
Pertanyaan umum
Apa itu SkyMast yang dikembangkan Protelindo?
Kapan teknologi SkyMast akan beroperasi komersial di Indonesia?
Aksi korporasi lain
MAPI Tetapkan Kebijakan Dividen Baru dengan Rasio 25-50 Persen
VISI Dapat Pengendali Baru, Siap Transformasi ke Sektor Kesehatan
RATU Komitmen Bagi Dividen dengan Target Peningkatan Tiap Tahun
MTO Savitra (VISI) oleh Raffi-Nagita Tuntas, Tak Ada Publik Ikut
Disclaimer: Ringkasan dirangkum dari sumber aslinya & dicocokkan terhadapnya. Untuk informasi & edukasi, bukan saran investasi atau ajakan transaksi efek. Rujuk sumber asli dan disclaimer lengkap.