PGEO Raup Pendanaan Rp 8,69 T dari JICA & Bank Dunia untuk 3 PLTP
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) memperoleh komitmen pendanaan internasional US$ 477,87 juta (Rp 8,69 triliun) dari JICA dan Bank Dunia untuk membangun tiga pembangkit panas bumi strategis berkapasitas total 160 MW, meski sahamnya tertekan hingga di bawah harga IPO.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), produsen listrik panas bumi terbesar di Indonesia, mengamankan komitmen pendanaan internasional senilai US$ 477,87 juta atau sekitar Rp 8,69 triliun (asumsi kurs Rp 18.179) untuk membiayai pembangunan tiga Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) strategis. Pendanaan berasal dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Bank Dunia melalui skema on lending concessional loan - pinjaman berbunga rendah dengan tenor panjang yang lebih menguntungkan dibanding pinjaman komersial.
Komitmen pendanaan ini diumumkan pada 8 Juni 2026, di tengah tekanan harga saham PGEO yang pada 9 Juni diperdagangkan di Rp 805 per lembar, merosot 21,08% dalam sebulan dan anjlok 28,44% secara year to date (YTD) - bahkan di bawah harga IPO Rp 875 saat melantai pada Februari 2023.
Rincian Transaksi
Dari total US$ 477,87 juta, tiga proyek strategis akan dibiayai sebagai berikut:
1. PLTP Lumut Balai Unit 3 (Sumatera Selatan)
- Kapasitas: 55 MW
- Pendanaan: US$ 158,86 juta dari JICA
- Target COD: 2030
2. PLTP Lumut Balai Unit 4 (Sumatera Selatan)
- Kapasitas: 55 MW
- Pendanaan: US$ 148,97 juta dari JICA
- Target COD: 2032
3. PLTP Lahendong Unit 7-8 (Sulawesi Utara)
- Kapasitas: 50 MW
- Pendanaan: US$ 170,04 juta dari Bank Dunia
- Target COD: 2030
Ketiga proyek ini telah masuk dalam Green Book 2026 - Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri yang disusun Bappenas - dan sebelumnya tercantum dalam Blue Book Bappenas 2025-2029, menandakan kesiapan teknis, finansial, dan lingkungan.
PLTP Lumut Balai Unit 3 dan Unit 4 di Kabupaten Muara Enim dan Ogan Komering Ulu telah mengantongi Power Purchase Agreement (PPA) dengan PLN, sedangkan Unit 4 juga tercantum dalam RUPTL PLN 2025-2034. Sementara itu, PLTP Lahendong Unit 7-8 di Kabupaten Minahasa diperkirakan akan meningkatkan kontribusi listrik panas bumi di wilayah tersebut menjadi 35%-40% dari kebutuhan total, naik dari posisi 30% saat ini.
Konteks
Meski harga saham tertekan seiring koreksi tajam IHSG yang anjlok 35,24% YTD hingga level pandemi COVID-19, fundamental operasional PGEO terpantau solid. Pada kuartal I 2026, perseroan membukukan pendapatan US$ 116,56 juta (naik 14,8% YoY) dan laba bersih US$ 43,90 juta (naik 40% YoY). Kas dan setara kas tumbuh 3,72% menjadi US$ 745,21 juta per 31 Maret 2026, mencerminkan likuiditas yang kuat.
Ketiga proyek PLTP ini merupakan bagian dari roadmap PGEO untuk mengembangkan kapasitas panas bumi hingga 3 GW, sejalan dengan agenda transisi energi nasional. Skema concessional loan dipilih untuk menjaga struktur pendanaan yang sehat dan menekan cost of debt, sehingga meningkatkan keekonomian proyek jangka panjang.
Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani, menyatakan bahwa pencantuman proyek dalam Green Book 2026 memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek bisnis perseroan dan menegaskan kesiapan proyek memasuki tahap pengembangan berikutnya.
Apa Artinya
Bagi PGEO, komitmen pendanaan jumbo ini menandakan progres konkret dalam membangun portofolio aset panas bumi jangka panjang. Dengan total kapasitas 160 MW dari tiga proyek baru, PGEO diperkirakan akan memperkuat posisi sebagai pemain dominan panas bumi nasional dan meningkatkan kontribusi listrik rendah emisi dalam bauran energi Indonesia.
Skema pinjaman konsesi dengan bunga rendah dan tenor panjang akan membantu menjaga kesehatan neraca dan profitabilitas di tengah siklus investasi padat modal. Hal ini penting mengingat proyek PLTP membutuhkan waktu pengembangan panjang (target COD 2030-2032) sebelum menghasilkan pendapatan.
Bagi pemegang saham, perlu dicermati bahwa tekanan harga saham saat ini lebih mencerminkan sentimen pasar luas (koreksi IHSG hingga 35%) dibanding fundamental operasional yang justru tumbuh solid. Namun, investor perlu sabar menunggu realisasi proyek dan kontribusi pendapatan dari PLTP baru, yang baru akan mulai beroperasi beberapa tahun ke depan.
Secara umum, akses PGEO ke pendanaan multilateral jangka panjang untuk proyek strategis yang sudah tercantum dalam RUPTL dan Green Book mencerminkan kredibilitas perseroan di mata lembaga internasional - sebuah modal penting untuk pertumbuhan berkelanjutan di sektor energi terbarukan yang padat modal.
FAQ
Pertanyaan umum
Berapa total pendanaan yang diperoleh PGEO dan dari mana sumbernya?
Kapan ketiga PLTP baru ini akan beroperasi?
Aksi korporasi lain
Disclaimer: Ringkasan dirangkum dari sumber aslinya & dicocokkan terhadapnya. Untuk informasi & edukasi, bukan saran investasi atau ajakan transaksi efek. Rujuk sumber asli dan disclaimer lengkap.