BATA Tidak Bagikan Dividen Akibat Rugi Rp116 Miliar pada 2025
PT Sepatu Bata Tbk memutuskan tidak membagikan dividen setelah mencatat kerugian bersih Rp116,45 miliar sepanjang 2025. Keputusan ini disetujui 99,99% pemegang saham dalam RUPST 30 Juni 2026.
PT Sepatu Bata Tbk (BATA) secara resmi memutuskan untuk tidak membagikan dividen kepada pemegang saham menyusul kerugian bersih sebesar Rp116,45 miliar yang dibukukan sepanjang tahun 2025. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Gedung Ventura, Jakarta, pada 30 Juni 2026, dengan tingkat persetujuan mencapai 99,99 persen dari pemegang saham.
Meskipun masih merugi, kerugian perseroan pada 2025 menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Rugi bersih tahun 2024 mencapai Rp148 miliar, artinya terjadi penurunan kerugian sekitar 22 persen pada 2025.
Rincian Transaksi
Dalam RUPST yang diselenggarakan pada 30 Juni 2026, hampir seluruh pemegang saham-tepatnya 99,99 persen-menyetujui keputusan manajemen untuk tidak membagikan dividen. Hal ini merupakan konsekuensi langsung dari kondisi keuangan perseroan yang masih membukukan kerugian bersih Rp116,45 miliar sepanjang tahun buku 2025.
Keputusan ini menandai kelanjutan penghentian pembayaran dividen tunai yang telah berlangsung sejak perseroan mulai mengalami kesulitan keuangan pasca-pandemi. Tidak ada rincian nilai dividen per saham atau jadwal pembayaran, mengingat tidak ada dividen yang akan dibagikan.
Konteks
Perjalanan keuangan BATA mengalami titik balik drastis sejak pandemi Covid-19 melanda. Pada 2019, perseroan masih dalam kondisi sehat dengan laba bersih Rp23 miliar dan pendapatan Rp931 miliar. Saat itu, BATA masih mampu membagikan dividen tunai kepada pemegang saham.
Namun situasi berubah drastis pada 2020 ketika pendapatan anjlok hampir 50 persen menjadi hanya Rp438 miliar. Meskipun sempat mengalami pemulihan pada 2022 dengan pendapatan meningkat menjadi Rp643 miliar, perseroan kembali menghadapi tekanan berat di tahun-tahun berikutnya.
Secara umum, industri alas kaki dalam negeri menghadapi tantangan serius dari membanjirnya produk impor murah asal China. Kompetisi harga yang ketat ini menekan margin dan pangsa pasar produsen lokal, termasuk BATA yang telah beroperasi di Indonesia sejak sebelum kemerdekaan.
Apa Artinya
Keputusan tidak membagikan dividen ini, meski dapat dipahami dari kondisi keuangan, menggarisbawahi tantangan struktural yang masih dihadapi BATA. Implikasinya, pemegang saham tidak akan mendapatkan return dalam bentuk dividen dan hanya bisa mengharapkan capital gain jika harga saham menguat-sesuatu yang sulit terjadi di tengah tren kerugian berkepanjangan.
Yang perlu dicermati adalah upaya manajemen untuk membalikkan kinerja operasional. Meskipun kerugian berkurang 22 persen, angka Rp116,45 miliar masih sangat besar dan menunjukkan bahwa perseroan belum menemukan formula tepat untuk kembali ke jalur profitabilitas.
Bagi investor, tidak adanya dividen dan berlanjutnya kerugian menunjukkan risiko yang masih tinggi. Perlu diamati apakah langkah-langkah turnaround yang diambil manajemen-seperti efisiensi, renovasi gerai, atau strategi bisnis baru-mampu mengubah kondisi fundamental dalam waktu dekat.
Secara lebih luas, kondisi BATA menjadi cerminan tantangan yang dihadapi industri manufaktur lokal dalam menghadapi kompetisi global yang semakin ketat. Tanpa inovasi signifikan atau dukungan kebijakan yang memadai, tekanan dari produk impor murah akan terus menjadi hambatan struktural bagi pemulihan kinerja.
Istilah dalam berita ini
FAQ
Pertanyaan umum
Mengapa BATA tidak membagikan dividen?
Berapa kerugian BATA pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya?
Aksi korporasi lain
Disclaimer: Ringkasan dirangkum dari sumber aslinya & dicocokkan terhadapnya. Untuk informasi & edukasi, bukan saran investasi atau ajakan transaksi efek. Rujuk sumber asli dan disclaimer lengkap.